Operasi Jantung

Obat-obatan

Anticoagulant

Anticoagulant

Normalnya darah memiliki kemampuan untuk membeku. Pembekuan darah ini dilakukan otomatis untuk menghentikan perdarahan pada luka. Namun pembekuan darah juga bisa terjadi secara abnormal dan mengganggu fungsi-fungsi tubuh, misalnya menyumbat pembuluh darah atau muncul di organ lain. Untuk menangani kondisi ini, diberikan obat antipembekuan darah atau anticoagulant.

Berikut informasi lengkap mengenai obat anticoagulant.

Apa Itu Anticoagulant?

Normalnya darah memiliki kemampuan hemostasis atau pembentukan gumpalan. Hemostasis terbagi menjadi 4 fase.

Fase pertama adalah respons cedera dengan pembentukan sumbatan oleh trombosit, fase kedua aktivasi proenzim yang memastikan aliran darah tidak melewati area cedera, fase ketiga adalah luruhnya gumpalan agar darah tetap bisa mengalir, dan terakhir fase ke empat di mana zat fibrin mengelilingi sumbatan trombosit, sekaligus proses penyembuhan luka.

Anticoagulant adalah sekelompok obat-obatan yang mengurangi kemampuan pembekuan darah. Obat ini akan memicu tubuh meluruhkan gumpalan darah yang telah ada atau mencegah penggumpalan baru.

Anticoagulant memiliki berbagai bentuk, seperti injeksi, obat infus, dan obat-obatan yang dikonsumsi secara oral. Seringkali antigoagulant diberikan untuk menangani kondisi-kondisi yang mengancam nyawa, seperti stroke, serangan jantung, dan emboli paru.

Jenis-jenis Anticoagulant

Jenis anticoagulant yang paling banyak diresepkan adalah warfarin. Selain itu ada beberapa jenis obat antikoagulasi, yaitu:

  • Rivaroxaban (Xarelto)
  • Dabigatran (Praxada)
  • Apixaban (Eliquis)
  • Edoxaban (Lixiana)

Warfarin dan jenis-jenis alternatif anticoagulant terbaru biasanya berbentuk tablet. Ada pula jenis anticoagulant yang bisa diberikan dalam bentuk injeksi, yaitu heparin.

Siapa yang Membutuhkan Anticoagulant?

Anticoagulant dibutuhkan oleh orang-orang yang berisiko mengalami penggumpalan darah atau telah mengalami kondisi tersebut. Ketika pembekuan darah terjadi secara abnormal dan gumpalan darah tersebut terus bergerak di dalam pembuluh darah, berisiko terjadi masalah kesehatan serius.

Gumpalan darah terlalu besar bisa menyumbat pembuluh yang lebih sempit. Jika pembuluh ini terletak di lokasi vital, bisa terjadi penyumbatan yang memicu organ-organ penting kekurangan asupan darah*.

Sumbatan akibat penggumpalan darah bisa menyebabkan masalah-masalah kesehatan serius seperti:

  • Stroke, gumpalan darah sangat berbahaya jika mencapai otak. Gumpalan ini sangat mudah menyumbat pembuluh-pembuluh darah berukuran kecil pada otak
  • Emboli paru, kondisi ini terjadi ketika gumpalan darah terjebak dan menyumbat pembuluh darah arteri di paru-paru. Jika sumbatan ini sangat parah, emboli paru bisa mengancam nyawa
  • Serangan jantung (infark miokard), serangan jantung terjadi saat arteri yang berfungsi sebagai saluran suplai darah tersumbat oleh gumpalan darah. Serangan jantung juga bisa mengancam nyawa
  • Pengguna katup jantung buatan, obat antipembekuan darah yang berinteraksi dengan vitamin K diberikan pada pasien dengan katup jantung buatan*
  • Aneurisma bilik kiri jantung, komplikasi dari serangan jantung, timbulnya tonjolan pada bilik jantung*
  • Tromboemboli vena, pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah vena. Anticoagulant juga diberikan untuk pencegahan kondisi ini*

Anticoagulant bisa melindungi orang-orang dengan kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan terkait penggumpalan darah tersebut.

Maka pasien-pasien dengan kondisi ini biasanya diresepkan anticoagulant:

  • Fibrilasi atrial, kondisi di mana terjadi detak jantung yang tidak normal. Pada kondisi ini, darah bisa menumpuk di kamar atas jantung akibat detak jantung terlalu cepat dan tidak efektif memompa darah. Penumpukan darah ini bisa menyebabkan penggumpalan dan meningkatkan risiko stroke
  • Penggantian atau operasi saluran jantung, beberapa jenis penggantian saluran jantung bisa meningkatkan risiko timbulnya penggumpalan darah
  • Operasi penggantian lutut atau panggul, operasi penggantian sendi bisa meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah di pembuluh-pembuluhh yang terletak pada kaki. Kondisi ini bisa memicu emboli paru
  • Kelainan pembekuan darah, ada beberapa kondisi medis yang menyebabkan kelainan pada kemampuan pembekuan darah. Kelainan-kelainan ini bisa dipicu faktor genetik.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Menggunakan Anticoagulant

Anticoagulant tidak dianjurkan diberikan pada pasien dengan kondisi:

  • Perdarahan aktif
  • Gangguan perdarahan atau koagulopati
  • Baru menjalani operasi besar
  • Perdarahan akut di dalam tengkorak
  • Trauma berat

Jika Anda diresepkan anticoagulant, penggunaannya harus selalu mengikuti aturan dari dokter. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti:

1. Menjalani Operasi

Pada pasien yang perlu mengonsumsi anticoagulant tetapi harus menjalani operasi atau prosedur-prosedur invasif lainnya, harus memberitahukan dokter mengenai obat yang dikonsumsi. Prosedur ini termasuk endoskopi, sistoskopi, serta prosedur pada gigi dan mulut.

Obat antikoagulasi mengurangi kemampuan pembekuan darah, maka menjalani prosedur invasif meningkatkan risiko terjadinya perdarahan lebih parah. Kemungkinan dokter akan menganjurkan pasien menghentikan lebih dulu konsumsi anticoagulant sebelum prosedur invasif dilakukan.

2. Kehamilan

Penggunaan obat ini pada kehamilan harus sangat diperhatikan. Ibu hamil memiliki risiko 5 kali lipat mengalami penggumpalan darah pada pembuluh darah vena dengan peningkatan hingga 20 kali lipat saat masa nifas.

Anticoagulant jenis warfarin biasanya tidak dianjurkan dikonsumsi ibu hamil karena dapat mempengaruhi kondisi janin. Risiko yang dapat timbul seperti cacat lahir atau perdarahan hebat dari plasenta dan janin.

Obat antikoagulasi mungkin bisa dikonsumsi pada trimester kedua kehamilan. Namun obat ini tidak boleh diberikan pada trimester pertama dan ketiga.

Sebaiknya hindari kehamilan jika masih perlu mengonsumsi anticoagulant. Namun jika terjadi kehamilan pada saat proses pengobatan, segera hubungi dokter untuk menghentikan obat atau mengubah dosis.

3. Menyusui

Anticoagulant seperti warfarin dan heparin aman diberikan saat menyusui, tetapi sebaiknya dikonsultasikan lebih dulu pada bidan atau dokter.

Jenis obat antikoagulasi yang tidak bisa diberikan pada ibu menyusui adalah Apixaban, Dabigatran, Edoxaban, dan Rivaroxaban. Obat-obatan ini belum memiliki dukungan studi yang membuktikan jika mereka aman dikonsumsi saat menyusui.

4. Menghindari Cedera

Mengonsumsi anticoagulant menyebabkan pasien lebih rentan mengalami perdarahan jika terjadi cedera. Maka usahakan untuk menghindari cedera minor serta tergores.

Pasien harus lebih berhati-hati saat menggosok gigi, mencukur, menghindari gigitan serangga, serta mencegah terjadinya insiden saat menggunakan benda-benda tajam atau ketika berolahraga.

5. Reaksi dengan Obat-obatan Lain

Pasien yang mengonsumsi anticoagulant harus menginformasikan pada dokter sebelum menerima atau mengonsumsi resep obat maupun suplemen lainnya. Hal ini karena anticoagulant bisa bereaksi dengan jenis obat, suplemen, atau bahan herbal.

Beberapa jenis obat yang bisa mempengaruhi efektivitas anticoagulant jika dikonsumsi berbarengan yaitu:

  • Antibiotik
  • Antidepresan
  • Obat-obatan untuk meredakan inflamasi (steroid)
  • Obat-obata untuk epilepsi
  • Obat antiinflamasi nonsteroidal (OAINS), seperti ibuprofen.

6. Makanan dan Minuman

Penting untuk menerapkan pola makan sehat dan seimbang yang terdiri dari banyak buah serta sayuran jika pasien mengonsumsi anticoagulant. Namun perlu diperhatikan jumlah sayur-sayuran hijau atau makanan yang tinggi kandungan vitamin K, karena bisa mempengaruhi kinerja anticoagulant jenis warfarin.

Konsumsi alkohol pun perlu diperhatikan selama masih menjalani terapi pengobatan dengan anticoagulant jenis warfarin. Alkohol bisa mempengaruhi efektivitas warfarin.

Konsultasikan lebih detail tentang pola makan selama mengonsumsi warfarin dengan dokter atau tenaga kesehatan medis profesional yang menangani Anda.

Aturan Penggunaan Anticoagulant

Anticoagulant adalah obat yang diberikan dan dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Maka cara menggunakannya akan dijelaskan oleh dokter atau suster yang menangani Anda, termasuk dosis serta kapan anticoagulant perlu diminum.

Kebanyakan obat ini dikonsumsi dalam bentuk tablet atau kapsul dengan dosis 1 – 2 kali sehari, dianjurkan dikonsumsi bersama dengan air atau makanan.

Berapa lama pasien perlu mengonsumsi anticoagulant berbeda-beda pada setiap individu, tergantung kondisi penyebabnya. Banyak pasien harus mengonsumsi obat ini seumur hidup.

Cara Kerja Anticoagulant

Normalnya tubuh memiliki kemampuan untuk membekukan dan mencegah terjadinya pembekuan darah. Jika darah tidak bisa membeku dengan cepat, cedera atau luka bisa menyebabkan perdarahan parah. Namun jika darah terlalu cepat membeku, bisa terjadi penggumpalan darah yang membahayakan.

Ada komponen dalam darah yang bekerja untuk menjaga proses pembekuan darah berjalan sesuai situasi. Jika proses ini berjalan dengan baik, maka pembekuan darah sangat membantu dalam menjaga kondisi tubuh, melindungi luka dari terjadinya infeksi.

Anticoagulant bekerja dengan mengintervensi proses pembekuan darah. Obat ini mencegah atau membatalkan pembekuan darah. Tergantung jenisnya, anticoagulant menghambat pembekuan darah dengan berbagai proses.

Efek Samping Anticoagulant

Mengonsumsi anticoagulant memiliki efek samping seperti pasien lebih mudah mengalami perdarahan. Hal ini bisa menimbulkan kondisi seperti*:

  • Urine dan feses berdarah, feses bisa berwarna kehitaman
  • Memar parah
  • Mimisan yang lebih lama
  • Gusi berdarah
  • Muntah atau batuk berdarah
  • Perdarahan haid yang lebih deras
  • Dispepsia
  • Napas pendek, sesak napas
  • Pusing dan sakit kepala
  • Nyeri perut
  • Gejala-gejala seperti gastritis.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan anticoagulant. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Anticoagulant medicines. https://www.nhs.uk/conditions/anticoagulants/ diakses 18 Februari 2023
  2. Anticoagulants (Blood Thinners): What They Do, Types and Side Effects. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/22288-anticoagulants diakses 18 Februari 2023
  3. Anticoagulation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560651/ diakses 31 Maret 2023
  4. Anticoagulants: A Review of the Pharmacology, Dosing, and Complications. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3654192/ diakses 31 Maret 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Nitrogliserin

Nitrogliserin

Nitrogliserin adalah obat yang digunakan untuk mencegah angina atau nyeri dada yang timbul pada pengidap penyakit jantung koroner. Pada kasus serangan angina, nitrogliserin juga digunakan sebagai obat untuk meredakannya.

Berikut informasi lengkap mengenai penggunaan nitrogliserin.

Apa Itu Nitrogliserin?

Nitrogliserin termasuk dalam kelompok obat-obatan nitrat. Jenis obat ini paling banyak digunakan dalam bentuk tablet yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Pada dasarnya, efek dari nitrogliserin adalah relaksasi otot yang membantu melebarkan pembuluh darah.

Jika digunakan secara rutin dalam jangka panjang atau dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas yang meningkatkan stres, nitrogliserin bisa mencegah terjadinya serangan angina.

Nitrogliserin bisa didapatkan dalam bentuk spray, tablet, kapsul lepas tunda, dan bubuk.

Siapa yang Membutuhkan Nitrogliserin?

Nitrogliserin bisa digunakan untuk menangani kondisi seperti:

  • Angina (angina pectoris, angina pectoris prophylaxis, angina Prinzmetal)
  • Infark miokard
  • Penyakit kardiovaskular
  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung
  • Preeklampsia atau eklampsia
  • Penyakit jantung iskemik
  • Hipertensi dengan gagal jantung atau masalah ginjal
  • Robekan pada ujung usus besar atau terbentuknya saluran di ujung usus besar (fisura ani dan fistula ani).

Nitrogliserin tetapi tidak dianjurkan untuk pasien dengan kondisi:

  • Memiliki alergi nitrat
  • Mengonsumsi obat-obatan PDE inhibitor, seperti sildenafil dan tadalafil
  • Mengonsumsi obat untuk perawatan hipertensi arteri pulmonari dan hipertensi thromboembolik pulmonari kronis
  • Mengidap infark pada ventrikel kanan jantung
  • Kardiomiopati hipertrofi (penebalan otot jantung)

Secara umum, nitrogliserin digunakan untuk mengatasi angina. Angina adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang disebabkan jantung tidak mendapat asupan darah yang cukup. Biasanya angina dirasakan seperti nyeri yang menekan dan sesak. Nyeri angina bisa dirasakan pada dada, leher, lengan (terutama lengan kiri), dan rahang bagian bawah.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Nitrogliserin

Riwayat Alergi

Sebelum diresepkan nitrogliserin, pasien harus memberitahu dokter jika memiliki riwayat alergi baik pada nitrogliserin atau obat-obatan lainnya. Pasien juga harus memberitahu alergi lain yang dimiliki, seperti alergi pada makanan, pewarna, pengawet, atau hewan.

Nitrogliserin juga bisa bereaksi dengan obat-obatan, vitamin, atau obat herbal yang dikonsumsi. Interaksi ini bisa mengubah efektivitas dan cara kerja obat, bahkan menimbulkan efek berbahaya. Maka untuk mencegah terjadinya interaksi ini, pasien diharapkan untuk memberitahu secara lengkap obat-obatan, suplemen, dan obat herbal yang sedang dikonsumsi.

Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bersamaan dengan Nitrogliserin

Jenis obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan nitrogliserin karena bisa menimbulkan efek berbahaya antara lain:

  • Sildenafil, tadalafil, vardenafil, dan avanafil. Reaksi obat-obatan ini dengan nitrogliserin bisa menyebabkan tekanan darah terlalu rendah
  • Ergotamine, mengonsumsi obat ini bersama dengan nitrogliserin memicu nyeri dada lebih parah
  • Riociguat, interaksinya dengan nitrogliserin menyebabkan tekanan darah sangat rendah.

Selain itu, nitrogliserin sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menangani kondisi depresi seperti amitriptyline, desipramine, dan doxepine. Efektivitas nitrogliserin bisa berkurang karena obat-obatan ini menyebabkan berkurangnya kadar air liur dan mulut lebih kering, sehingga nitrogliserin tidak bisa larut dan bekerja sebagaimana mestinya.

Efek samping nitrogliserin bisa lebih parah jika bereaksi dengan obat-obatan tertentu. Jika pasien mengonsumsi obat-obatan ini, sebaiknya informasikan ke dokter untuk dilakukan penyesuaian dosis, yaitu:

  • Acetylcysteine
  • Apomorphine
  • Aspirin
  • Dihydroergotamine
  • Pancuronium

Pasien yang mengonsumsi alkohol juga perlu menginformasikan pada dokter. Nitrogliserin bisa bereaksi dengan alkohol, memicu tekanan darah terlalu rendah.

Kondisi Tertentu

Ada beberapa kondisi medis yang perlu diperhatikan jika hendak mengonsumsi nitrogliserin karena ada kemungkinan memperburuk masalah kesehatan tersebut. Pasien dengan kondisi-kondisi ini sebaiknya memberitahu dokter:

  • Anemia
  • Tumor otak
  • Gagal atau syok fungsi sirkulasi
  • Serangan jantung
  • Cedera kepala, terutama dengan tekanan di area kepala
  • Gagal jantung kongestif
  • Penyakit jantung, seperti kardiomiopati hipertropik, perikarditis konstriktif
  • Tekanan darah rendah
  • Volume darah rendah atau hipovolemia.

Pada ibu hamil atau menyusui, sebaiknya konsultasikan lebih dulu pada dokter sebelum diresepkan nitrogliserin. Belum ada studi yang menemukan nitrogliserin berdampak pada kehamilan, tetapi perlu pertimbangan dokter untuk menggunakannya dalam keadaan hamil. Sedangkan pada ibu menyusui, perlu diketahui jika nitrogliserin bisa masuk ke ASI dan menyebabkan efek samping pada bayi yang meminumnya*.

Aturan Penggunaan Nitrogliserin

Nitrogliserin umumnya diberikan dalam bentuk tablet yang diserap secara sublingual, atau tidak boleh ditelan dan dikunyah. Tablet nitrogliserin hanya boleh diberikan sesuai arahan dokter. Biasanya tablet diletakkan di bawah lidah, kemudian dibiarkan larut dan diserap oleh air liur pada mulut*.

Ada 3 dosis nitrogliserin tablet sublingual, yaitu 0.3 mg, 0.4 mg, dan 0.6 mg. Dosis-dosis ini bisa diulang setiap 5 menit hingga nyeri reda. Jika nyeri angina masih terasa setelah 3 kali dosis, maka pertolongan medis harus segera diberikan*.

Pemberian dosis nitrogliserin dalam tablet sublingual biasanya ditentukan dari*:

  • Usia
  • Kondisi yang perlu ditangani
  • Seberapa parah kondisi pasien
  • Kondisi medis penyerta
  • Bagaimana reaksi pasien terhadap dosis pertama.

Selain itu nitrogliserin juga bisa diberikan secara intravena atau melalui infus. Pemberian nitrogliserin lewat infus paling sering dilakukan di IGD atau ICU.

Nitrogliserin diberikan secara intravena pada kondisi-kondisi seperti adanya gejala jantung koroner, kegawatan tekanan darah tinggi, dan gagal jantung kongestif. Pemberian nitrogliserin via infus harus dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya toleransi nitrat yang memicu berkurangnya efektivitas obat.

Pada pasien serangan angina akut, nitrogliserin bisa diberikan secara transdermal dalam bentuk salep 2%. 

Cara Kerja Nitrogliserin

Nitrogliserin termasuk klasifikasi obat yang disebut sebagai vasodilator. Obat-obatan vasodilator seringkali digunakan untuk menangani kondisi serupa.

Nitrogliserin bekerja dengan mengurangi ketegangan hingga otot-otot halus dan pembuluh darah menjadi rileks. Ketika otot dan pembuluh darah lebih rileks, maka aliran darah ke jantung meningkat, begitu pula oksigen yang sangat dibutuhkan. Kondisi ini kemudian dapat mengurangi beban kerja jantung. Jika beban kerja jantung berkurang, maka nyeri dada pun reda.

Efek Samping Nitrogliserin

Nitrogliserin dapat menimbulkan efek samping berupa pusing dalam beberapa jam pertama setelah diberikan. Efek samping lainnya seperti*:

  • Sakit kepala
  • Hilang keseimbangan, pusing
  • Lemas
  • Detak jantung lebih cepat
  • Mual
  • Muntah
  • Kulit lebih hangat dan tampak kemerahan
  • Muncul ruam

Efek samping ringan dapat menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Namun jika efek samping terasa sangat mengganggu, sebaiknya pasien berkonsultasi pada dokter.

Segera hubungi dokter jika terjadi efek samping serius seperti tekanan darah rendah. Kondisi ini ditandai dengan pusing, pingsan, pandangan berkunang-kunang, mual, keringat dingin, dan napas pendek yang cepat.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan nitrogliserin. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Nitroglycerin (Oral Route, Sublingual Route) Description and Brand Names. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/nitroglycerin-oral-route-sublingual-route/description/drg-20072863 diakses 18 Februari 2023
  2. Nitroglycerin: Side Effects, Dosage, Uses, and More. https://www.healthline.com/health/drugs/nitroglycerin-sublingual-tablet diakses 18 Februari 2023
  3. Nitroglycerin. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482382/ diakses 18 Februari 2023
  4. Nitroglycerin (Nitrostat) – Side Effects, Interactions, Uses, Dosage, Warnings. https://www.everydayhealth.com/drugs/nitroglycerin diakses 18 Februari 2023
  5. Isosorbide. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557839/ diakses 22 Maret 2023
  6. Nitrates. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545149/ diakses 22 Maret 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

ACE Inhibitor

ACE Inhibitor

ACE inhibitors adalah jenis obat yang digunakan untuk menangani tekanan darah tinggi. Obat-obatan ini juga bisa diberikan pada kondisi-kondisi medis lainnya dengan indikasi terkait masalah tekanan darah tinggi.

Berikut informasi lengkap mengenai ACE inhibitor.

Apa itu ACE Inhibitor?

Angiotensin-converting enzyme inhibitors atau disingkat ACE inhibitor adalah obat-obatan yang termasuk dalam klasifikasi kegunaan menurunkan tekanan darah. ACE inhibitor juga bisa membantu mengurangi risiko masalah kardiovaskular, gagal ginjal, dan stroke.

Jenis obat ACE inhibitor digunakan untuk menangani penyakit kardiovaskular (masalah pada jantung atau pembuluh darah), seperti tekanan darah tinggi, gagal ginjal, penyakit ginjal terkait diabetes, dan kondisi-kondisi lainnya.

Ada banyak ACE inhibitor, mana yang paling cocok tergantung pada kondisi yang diidap serta kesehatan secara umum. Contoh ACE inhibitor seperti:

  • Benazepril (Lotensin)
  • Captopril
  • Enalapril
  • Fosinopril
  • Lisinopril (Prinivil, Zestril)
  • Moexipril
  • Perindopril
  • Quinapril (Accupril)
  • Ramipril (Altace)
  • Trandolapril.

Siapa yang Membutuhkan ACE Inhibitor?

ACE inhibitor digunakan untuk mencegah, menangani, atau meningkatkan kondisi pasien dengan masalah kesehatan seperti*:

  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung koroner
  • Gagal jantung
  • Diabetes
  • Penyakit ginjal kronis
  • Serangan jantung
  • Penyakit yang menimbulkan mengerasnya kulit dan jaringan ikat (skleroderma)
  • Migrain.

Kadang beberapa jenis obat untuk menangani masalah tekanan darah seperti diuretik atau penghambat saluran kalsium diresepkan bersama dengan ACE inhibitor. Namun ACE inhibitor tidak bisa dikonsumsi bersamaan dengan beberapa jenis obat lain seperti penghambat reseptor angiotensin atau direct renin inhibitor.

ACE inhibitor juga bisa diberikan untuk mencegah serangan jantung dan stroke pada orang-orang yang berisiko tinggi mengalami kondisi tersebut. Obat ini juga diberikan untuk memperlambat kondisi gagal ginjal pada pengidap diabetes.

ACE inhibitor juga bisa menangani masalah ginjal non-diabetes, beberapa di antaranya:

  • Sindrom nefrotik (kerusakan ginjal)
  • Proteinuria (kadar protein terlalu tinggi pada urine)
  • Penyakit glomerural (gangguan pada sistem filtrasi atau penyaringan pada ginjal)
  • Peradangan ginjal dan masalah penyaringan yang terjadi setelah transplantasi.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

ACE inhibitor termasuk obat yang aman dengan efek samping ringan. Namun terdapat kontraindikasi penggunaannya. Jika mengalami kondisi-kondisi ini, sebaiknya hindari mengonsumsi ACE inhibitor:

  • Hamil atau menyusui, ACE inhibitor tidak boleh dikonsumsi saat hamil karena bisa menyebabkan cacat lahir parah hingga kematian janin. Beberapa jenis obat ini aman dikonsumsi saat menyusui, tetapi sebaiknya konsultasikan pada dokter
  • Riwayat angioedema, atau pembengkakan yang terjadi di bawah kulit pada area wajah. Baik angioedema keturunan atau penyebabnya tidak diketahui. Hindari mengonsumsi ACE inhibitor jika pernah mengalami reaksi tertentu pada obat tersebut
  • Masalah ginjal parah, atau penyakit pada pembuluh darah yang mengganggu aliran darah pada ginjal (stenosis arteri renal).

ACE inhibitor bisa bereaksi dengan obat-obatan lainnya karena cara kerjanya yang memengaruhi sistem sirkulasi tubuh. Obat yang dapat bereaksi dengan ACE inhibitor antara lain:

  • Obat Antiinflamasi Non-steroidal (OAINS), reaksi ACE inhibitor dengan OAINS bisa menyebabkan obat menjadi kurang efektif atau menimbulkan penurunan fungsi ginjal. Jenis-jenis OAINS yang bisa bereaksi dengan ACE inhibitor adalah Aspirin, Ibuprofen, dan Naproxen*
  • Obat yang mempengaruhi kadar potasium dan sodium, ACE inhibitor mempengaruhi bagaimana tubuh mempertahankan atau membuang elektrolit seperti potasium dan sodium. Artinya jika pasien mengonsumsi jenis obat yang mempengaruhi kadar kedua senyawa tersebut, bisa terjadi reaksi tertentu. Contohnya hyperkalemia atau kadar potasium dalam darah terlalu tinggi*
  • Obat penghambat reseptor angiotensin, ACE inhibitor mencegah angiotensin bisa digunakan oleh tubuh. Obat-obatan yang menghambat reseptor angiotensin bisa bereaksi dengan ACE inhibitor karena cara kerjanya mencegah tubuh menggunakan angiotensin II. Jika kedua obat ini digunakan bersamaan, efek yang bisa timbul seperti gangguan fungsi ginjal, tekanan darah rendah, dan kemungkinan memicu hyperkalemia*
  • Obat yang mempengaruhi ginjal, contohnya aliskiren yang mencegah produksi enzim renin. Renin adalah bagian penting dalam tubuh yang berfungsi mengatur tekanan darah*.

Secara umum untuk penggunaan ACE inhibitor dengan aman cukup ikuti anjuran dari dokter. Anda bisa bertanya tentang makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari jika tengah mengonsumsi ACE inhibitor.

Terutama jika dokter meminta untuk mengubah pola makan rendah sodium atau mengurangi garam. Jika pasien dalam pengobatan ACE inhibitor tidak mengikuti pola makan tersebut, berisiko mempengaruhi kadar sodium dalam darah. Selain itu sebaiknya hindari pengganti garam yang mengandung potasium.

Karena cara kerjanya yang mempengaruhi sirkulasi, sebaiknya ketika mengonsumsi ACE inhibitor perhatikan detak jantung dan tekanan darah. Selama masih mengonsumsi, usahakan catat seberapa cepat detak jantung dan seberapa tinggi tekanan darah setiap harinya.

Aturan Penggunaan ACE Inhibitor

Semua jenis obat ACE inhibitor digunakan secara oral, kecuali Enalapril yang bisa diberikan melalui infus*. ACE inhibitor harus dikonsumsi sesuai resep yang diberikan dokter dan usahakan untuk meminumnya di waktu yang sama setiap hari. Aturan penggunaan lainnya seperti*:

  • Jika diresepkan untuk mengonsumsi lebih dari 1 kali sehari, atur jarak waktu yang tepat. Konsultasikan dengan dokter
  • Jika melewatkan 1 kali dosis, segera minum saat ingat. Namun jangan minum jika sudah sangat dekat dengan waktu mengonsumsi dosis berikutnya
  • Jangan mengonsumsi ACE inhibitor dalam dosis 2 kali lipat atau minum lebih banyak untuk menggantikan dosis yang terlewat.

Jangan menghentikan konsumsi ACE inhibitor tanpa berkonsultasi dengan dokter. Menghentikan konsumsi ACE inhibitor mendadak bisa menyebabkan dampak serius, bahkan mengancam nyawa. Terutama pada pasien yang berisiko serangan jantung, stroke, atau kondisi gagal jantung yang semakin buruk.

Untuk dosis ACE inhibitor dalam terapi hipertensi dan gagal jantung adalah:

Jenis ACE InhibitorTerapi HipertensiTerapi Gagal Jantung
Dosis HarianDosis Maksimal per HariDosis HarianDosis Maksimal per Hari
Benzapril (Lotensin)10 mg80 mg
Enalapril (Vasotec, Epaned)5 mg40 mg2.5 mg40 mgl
Lisinopril (Prinivil, Zestril)10 mg80 mg2.5 – 5 mg40 mg
Moexipril (Univasc)7.5 mg30 mg
Perindopril (Aceon)4 mg16 mg2 mg16 mg
Quinapril (Accupril)10 – 20 mg80 mg5 mg (2 kali sehari)40 mg
Ramipril (Alltace)2.5 mg20 mg1.25 – 2.5 mg (2 kali sehari)10 mg
Trandolapril (Mavik)1-2 mg8 mg1 mg4 mg

Tergantung alasan pemberian ACE inhibitor, kemungkinan obat ini akan terus digunakan untuk memperbaiki tekanan darah hingga kondisi stabil dan terkontrol. Jika telah tercapai tujuan tersebut, dokter akan membantu pasien mengurangi dosis hingga aman untuk berhenti mengonsumsi.

Cara Kerja ACE Inhibitor

Seperti namanya, ACE inhibitor bekerja dengan menghambat enzim yang berfungsi mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang dapat digunakan tubuh. Angiotensin II berfungsi menaikkan tekanan darah dalam berbagai cara, dengan mengurangi angiotensin II, maka cara ini efektif untuk menurunkan tekanan darah.

ACE inhibitor membuat jantung lebih mudah untuk memompa darah. Selain menurunkan tekanan darah, ACE inhibitor juga membantu melindungi jantung, pembuluh darah, serta kondisi ginjal pada pasien yang mengidap diabetes atau penyakit ginjal*.

Efek Samping ACE Inhibitor

Kebanyakan efek samping ACE inhibitor tidak terlalu serius, tetapi ada beberapa kasus di mana timbul efek samping yang butuh penanganan medis.

Efek samping yang paling sering muncul adalah:

  • Batuk kering
  • Kepala terasa pusing atau ringan
  • Sakit kepala
  • Mengantuk
  • Letih, kelelahan
  • Lemas
  • Gangguan pada indera pengecap, misalnya kemampuan merasakan yang menurun atau tiba-tiba ada rasa aneh di lidah
  • Perut tidak nyaman atau mual
  • Muncul ruam

ACE inhibitor juga dapat menimbulkan efek samping parah seperti hipotensi atau tekanan darah terlalu rendah, hiperkalemia atau peningkatan kadar potasium dalam darah, angioadenoma atau pembengkakan di berbagai bagian tubuh, reaksi alergi, hingga tanda-tanda penyakit kuning. Jika mengalami reaksi-reaksi tersebut, segera cari pertolongan medis.

Dosis tinggi ACE inhibitor umumnya dapat ditoleransi tubuh. Namun ada kemungkinan pasien mengalami keracunan. Gejalanya seperti tekanan darah rendah (hipotensi), penurunan fungsi ginjal, elektrolit tidak seimbang, hiperkalemia, dan hiponatremia atau penurunan kadar natrium dalam darah*.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan ACE inhibitor. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) Inhibitors. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/21934-ace-inhibitors diakses 20 Februari 2023
  2. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors (ACEI) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431051/ diakses 20 Februari 2023
  3. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors. https://www.heartandstroke.ca/heart-disease/treatments/medications/angiotensin-converting-enzyme-inhibitors diakses 20 Februari 2023
  4. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/ace-inhibitors/art-20047480 diakses 20 Februari 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

× Hubungi Via WhatsApp