Operasi Jantung

Pengobatan Jantung

Transcatheter Closure: Manfaat dan Prosedur

Apa Itu Transcatheter Closure?

Transcatheter closure adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengobati atrial septal defect (ASD). ASD merupakan kelainan jantung bawaan yang ditandai dengan adanya lubang pada dinding (septum) yang membagi bilik atas (atrium) jantung. Ukuran lubang ini dapat bervariasi. Ada beberapa lubang yang mungkin dapat menutup dengan sendirinya, ada pula lubang yang memerlukan pembedahan. Atrial septal defect merupakan salah satu jenis kelainan jantung bawaan, yang mana artinya kelainan tersebut sudah ada sejak bayi lahir.

Jika dibandingkan dengan prosedur bedah yang biasa, tindakan transcatheter closure menggunakan pendekatan yang tidak terlalu invasif dengan proses pemulihan yang lebih cepat dan dapat menurunkan dampak fisik maupun psikologis*. Hampir 85-90% dari seluruh kasus ASD dapat ditutup dengan menggunakan pendekatan transkateter ini.

Kapan Membutuhkan Transcatheter Closure?

Banyak anak penderita ASD tidak perlu memperbaiki lubang pada dinding jantungnya tersebut. Lubang yang sangat kecil mungkin tidak akan menjadikan terlalu banyak darah mengalir di antara atrium. Dalam kasus ini, jantung dan paru-paru tidak harus bekerja lebih keras dari biasanya dan tidak menimbulkan gejala apa pun hingga tidak perlu diperbaiki. Bahkan terkadang, lubang kecil ini akan menutup dengan sendirinya. 

Akan tetapi, jika anak Anda memiliki lubang ASD yang lebih besar, ia mungkin memiliki gejala seperti sesak napas. Lubang ASD yang besar dan tidak diperbaiki pada akhirnya dapat menyebabkan tekanan tinggi pada pembuluh darah di paru-paru. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam tubuh. Dokter umumnya merekomendasikan tindakan transcatheter closure untuk anak-anak yang menderita lubang ASD besar, meskipun mereka belum menunjukkan gejala.

Persiapan Sebelum Transcatheter Closure

Meskipun transcatheter closure secara teknis dapat dilakukan pada pasien yang lebih kecil, sebagian besar dokter berpendapat bahwa prosedur ini lebih baik dilakukan pada anak dengan berat badan >15 kg dan berusia 3-5 tahun, untuk meminimalkan risiko komplikasi prosedural. 

Sebelum mempertimbangkan penutupan prosedur ini sebagai langkah penanganan, pasien harus menjalani ekokardiogram transtoraks lengkap untuk menilai ukuran dan lokasi lubang, kecukupan tepi dinding atrium, dan kemungkinan kelainan terkait hal-hal lainnya. Pada orang dewasa, ekokardiografi transesofageal (TEE) seringkali diperlukan untuk penilaian menyeluruh. Alat tes lain seperti TEE 3 dimensi, magnetic resonance imaging (MRI), atau computed tomography (CT) dapat dipertimbangkan untuk memeriksa kondisi awal pasien.

Bagaimana Prosedur Transcatheter Closure?

Prosedur ini dilakukan menggunakan anestesi yang menjadikan pasien tertidur dan tidak merasakan sakit selama proses tindakan. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tindak prosedur ini kurang lebih selama 2 jam. 

Langkah-langkah yang dilakukan dokter selama prosedur transcatheter closure, antara lain:

  • Dokter akan memasukkan tabung kecil fleksibel (kateter) ke dalam arteri di selangkangan. Tabung ini akan memiliki perangkat kecil di dalamnya.
  • Dokter kemudian memasang selang melalui pembuluh darah sampai ke septum atrium. Gambar sinar-X dan ekokardiogram dapat digunakan untuk melihat dengan tepat di mana letak selang tersebut.
  • Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menggunakan ekokardiogram transesofageal, dengan probe ultrasonografi dimasukkan ke tenggorokan pasien.
  • Dokter akan mendorong perangkat kecil yang dibawa oleh kateter keluar dari tabung dan memasangnya di lubang septum atrium. Perangkat tersebut dipastikan terpasang dengan aman di tempatnya.
  • Tabung akan dikeluarkan kembali melalui pembuluh darah.
  • Dokter akan menutup dan membalut bekas tempat dipasangnya selang.

PascaTranscatheter Closure

Setelah prosedur trancatheter closure selesai dilakukan, pasien akan menghabiskan beberapa jam beristirahat di ruang pemulihan. Tanda-tanda vital, seperti detak jantung dan pernapasan, akan diawasi secara berkala oleh tenaga medis yang bertugas. Pasien mungkin perlu berbaring selama beberapa jam setelah prosedur tanpa menekuk kakinya untuk mencegah pendarahan. Dokter mungkin akan meresepkan obat yang mencegah pembekuan darah (antikoagulan) dan obat pereda nyeri jika diperlukan. Pasien kemungkinan besar perlu tinggal di rumah sakit setidaknya satu hari.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sesampainya di rumah setelah menjalani prosedur, antara lain:

  • Tanyakan obat apa yang perlu diminum secara rutin. Berikan obat pereda nyeri sesuai kebutuhan.
  • Awasi pasien untuk menghindari aktivitas berat dan minta mereka untuk lebih banyak beristirahat.
  • Jahitan apa pun akan dilepas pada pertemuan berikutnya. Pastikan untuk melakukan semua kunjungan tindak lanjut.
  • Hubungi dokter jika pasien mengalami pembengkakan yang semakin parah, pendarahan atau drainase yang meningkat, demam, atau gejala yang tidak segera membaik. 

Pertanyaan Umum Mengenai Transcatheter Closure

Apakah Ada Efek Samping dari Transcatheter Closure?

Karena prosedur ini termasuk prosedur bedah, maka terdapat beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, seperti:

  • Cedera pembuluh darah.
  • Infeksi.
  • Aritmia.
  • Tromboemboli.
  • Kegagalan pada fungsi katup atrioventrikular.
  • Embolisasi perangkat, di mana ukuran perangkat terlalu kecil atau pinggiran septum yang tipis atau tidak sempurna. Perangkat yang mengalami emboli seringkali dapat diambil melalui teknik transkateter, meskipun terkadang memerlukan pengangkatan melalui pembedahan, terutama jika perangkat tersebut mengalami emboli di jantung kiri.

Seberapa Efektif Prosedur Ini?

Menurut Journal of the American College of Cardiology, semua perangkat yang digunakan dalam prosedur ini telah menunjukkan keamanan dan keberhasilan yang sangat baik. Tingkat keberhasilan prosedur transcatheter closure ini mencapai angka lebih dari 95%, dengan efek samping serius yang dilaporkan kurang dari sama dengan 5%.

Apabila Anda atau orang di sekitar Anda memerlukan bantuan dan informasi lebih lanjut mengenai atrial septal defect atau penyakit jantung bawaan yang lain, OperasiJantung.id siap membantu Anda. Segera hubungi kami di 0877-8777-8614  untuk berkonsultasi dengan dokter.

Sumber:

  1. Transcatheter closure of atrial septal defects: how large is too large? – PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4069976/. Diakses 3 November 2023.
  2. Atrial septal defect (ASD) device trans-catheter closure: limitations – PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6174146/. Diakses 3 November 2023.
  3. Transcatheter Closure of Large Atrial Septal Defects | Circulation: Cardiovascular Interventions. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCINTERVENTIONS.113.001254. Diakses 3 November 2023.
  4. Transcatheter Closure of Atrial and Ventricular Septal Defects: JACC Focus Seminar | Journal of the American College of Cardiology. https://www.jacc.org/doi/10.1016/j.jacc.2021.08.082. Diakses 3 November 2023.
  5. Atrial Septal Defect Transcatheter Repair for Children | Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/atrial-septal-defect-transcatheter-repair-for-children. Diakses 3 November 2023.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Mengenal Prosedur TEVAR (Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair)

Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair (TEVAR) adalah salah satu teknik operasi invasif minimalis untuk memperbaiki aneurisma aorta. Prosedur operasi ini merupakan salah satu terobosan terkini dan terpercaya untuk menangani aneurisma aorta toraks.

Sekilas tentang Aneurisma Aorta

Aneurisma aorta adalah tonjolan yang ada di aorta, arteri atau pembuluh darah utama di jantung. Arteri biasanya memiliki dinding-dinding yang kuat, tebal, dan fleksibel. Namun, jika ada masalah tertentu dinding-dinding ini bisa melemah.

Waktu dinding arteri melemah, tekanan darah yang masuk ke dalam jantung yang terus mendorong dinding arteri akan membuatnya membengkak. Hasilnya akan timbul tonjolan yang disebut aneurisma. Jika tonjolan ini tumbuh semakin besar, suatu saat bisa pecah dan menimbulkan pendarahan di dalam tubuh.

Ada dua jenis aneurisma aorta yang dibagi karena lokasinya. Pertama ada aneurisma aorta perut (AAA) yang terjadi di bagian bawah arteri utama tubuh. Kedua ada aneurisma aorta toraks (TAA) yang muncul dibagian atas aorta atau area dada.

Apa Itu TEVAR?

Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair adalah prosedur untuk mengobati aneurisma di bagian aorta. Prosedur ini adalah operasi invasif minimal sehingga dilakukan hanya dengan sayatan kecil untuk memasukkan cangkok stent.

Metode operasi cangkok stent berguna untuk mencegah aneurisma pecah. Pasalnya jika aneurisma aorta pecah bisa berakibat fatal. Bahkan bisa menyebabkan penderita aneurisma aorta mengalami pendarahan internal hingga kematian.

Kapan Membutuhkan Prosedur TEVAR?

Prosedur Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair sering menjadi pertimbangan sebagai pengobatan aneurisma aorta. Hanya saja tidak semua penderita aneurisma aorta membutuhkan tindakan bedah TEVAR. Ada beberapa kondisi tertentu yang membuat dokter mungkin akan menyarankan tindakan ini.

Salah satunya yakni pasien adalah penderita aneurisma aorta toraks. Di mana ukuran tonjolan sudah cukup besar dan ditakutkan akan pecah jika tidak segera mendapatkan intervensi bedah. Selain itu, pertumbuhan aneurisma juga menjadi pertimbangan penting bagi dokter bedah untuk menyarankan prosedur TEVAR.

Persiapan Sebelum Melakukan Prosedur TEVAR

Jika Anda melakukan operasi invasif minimal TEVAR, penyedia layanan kesehatan tempat Anda dirawat akan memberitahu apa saja yang perlu disiapkan. Persiapan berikut ini hanya daftar umum yang mungkin akan dokter bedah minta untuk Anda lakukan sebelum operasi.

  • Setelah menjelaskan prosedur TEVAR, pihak rumah sakit akan meminta Anda menandatangani formulir persetujuan. Baca formulir dengan cermat, bila ada yang kurang jelas sebaiknya Anda ajukan pertanyaan.
  • Dokter akan memeriksa daftar riwayat kesehatan Anda. Kemungkinan Anda juga akan diminta untuk melakukan tes fisik, tes darah, dan tes diagnostik lainnya.
  • Sebaiknya anda memberitahu dokter jika memiliki kondisi tertentu seperti hamil atau sensitif terhadap obat-obatan tertentu.
  • Beritahu dokter jika Anda mengonsumsi obat-obatan (misalnya obat antikoagulan), vitamin, atau suplemen herbal. Dokter mungkin akan meminta Anda berhenti meminum obat-obatan tersebut.
  • Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk mengendurkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Hal ini demi mengurangi risiko pecahnya aneurisma aorta.
  • Anda akan diminta untuk puasa atau tidak makan dan minum beberapa jam sebelum operasi. Puasa ini biasanya dilakukan sejak tengah malam sebelum Anda melakukan operasi.
  • Jika Anda merokok, hentikan kebiasaan tersebut kurang-lebih seminggu sebelum operasi. Ini demi meningkatkan peluang suksesnya operasi TEVAR Anda.

Selain persiapan di atas, Anda mungkin akan mendapatkan instruksi lain dari dokter sesuai dengan kondisi medis Anda.

Bagaimana Prosedur Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair?

TEVAR adalah tindakan operasi invasif minimal yang dilakukan dengan sayatan kecil. Dokter Anda mungkin telah menjelaskan langkah-langkah dari prosedur operasi TEVAR. Berikut ini hanya gambaran umum dari metode Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair.

  • Pertama, Anda akan diberikan anestesi, mungkin dokter Anda akan memberikan anestesi umum. Di mana menyebabkan Anda tertidur selama prosedur berlangsung. Mungkin juga hanya anestesi lokal yang hanya membuat sebagian tubuh Anda mati rasa.
  • Dokter akan memantau dengan cermat tanda-tanda vital Anda seperti detak jantung dan tekanan darah selama prosedur berlangsung.
  • Dokter bedah kemudian akan membuat sayatan kecil di area selangkangan dan lengan untuk bisa masuk ke aorta.
  • Kemudian sebuah tabung kateter yang disebut selubung akan dipasang di arteri Anda.
  • Selanjutnya dokter bedah Anda akan memasang cangkok stent ke ujung kateter.
  • Setelah itu kateter akan dimasukkan ke bagian aorta melalui arteri selangkangan dengan panduan dari sinar-X.
  • Jika cangkok stent telah terpasang di aorta, dokter bedah akan melebarkan rangka logamnya lalu mengencangkannya. Sehingga bingkai logam yang seperti pegas akan menempel dengan erat di dinding aorta Anda.
  • Terakhir dokter bedah akan melepas kateter dan menutup sayatan kecil. Lantas membalut luka Anda dengan perban kecil.

Pasca-Prosedur TEVAR

Setelah prosedur TEVAR, Anda akan menghabiskan beberapa jam di ruang pemulihan. Tim medis akan memantau kesehatan dan tanda-tanda vital Anda. Untuk mencegah pendarahan, Anda mungkin perlu berbaring selama beberapa jam setelah prosedur operasi. Kemungkinan Anda menjalani rawat inap untuk observasi pasca operasi selama 3-4 hari di rumah sakit.

Bila anda telah sampai di rumah, sebaiknya lakukan beberapa tips berikut agar bisa pulih dengan cepat.

  • Hindari aktivitas berat setidaknya selama 4 minggu setelah operasi.
  • Rutin periksa lokasi sayatan Anda demi mencegah terjadinya infeksi. Gejala infeksi yang mungkin terjadi adalah kemerahan, bengkak, nyeri, dan timbulnya tonjolan.
  • Segera pergi ke penyedia layanan medis jika Anda mengalami demam dengan suhu 38oC atau lebih.
  • Tanyakan ke penyedia layanan kesehatan tentang makanan apa yang bisa Anda konsumsi dan tidak setelah selesai operasi TEVAR.
  • Ingatlah untuk meminum obat yang diberikan oleh dokter.

Pertanyaan Umum Seputar TEVAR

Berikut beberapa pertanyaan umum tentang Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair (TEVAR) yang bisa menjadi tambahan informasi untuk Anda.

Apakah Ada Efek Samping TEVAR?

Tentu ada. Di bawah ini adalah beberapa efek samping dari prosedur invasif minimalis TEVAR.

  • Infeksi.
  • Pendarahan.
  • Adanya penggumpalan darah.
  • Cedera pada pembuluh darah.
  • Pencangkokan mengalami kebocoran.
  • Cangkok bergerak keluar dari posisinya.

Seberapa Efektif Prosedur Ini?

Prosedur TEVAR cukup efektif untuk mengatasi aneurisma aorta toraks. Sebab, luka sayatan yang timbul hanya kecil dan Anda bisa pulih dengan cepat. Hanya saja cangkok stent yang dipasang tidak sekuat jika dilakukan dengan prosedur operasi terbuka. Sehingga Anda perlu rutin melakukan pemeriksaan untuk memastikan cangkok stent tidak lepas.

Apabila Anda saat ini tengah mengalami masalah aneurisma aorta toraks dan tengah mencari solusi pengobatan, Anda bisa menghubungi OperasiJantung.com di nomor Whatsapp nomor Whatsapp 0877-8777-8614 . Kami akan membantu menemukan informasi pengobatan medis aneurisma aorta secara lengkap. Layanan ini pun bisa Anda gunakan untuk menemukan rumah sakit terbaik untuk melakukan operasi Thoracic Endovascular Aostic Aneurysm Repair (TEVAR) di dalam dan luar negeri.

Referensi: 

  1. Jhon Hopkins Medicine. Thoracic Endovascular Aortic Repair. Diakses 1 Oktober 2023 dari https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/thoracic-endovascular-aortic-repair 
  1. Mayo Clinic. 2023. Abdominal aortic aneurysm. Diakses pada 1 Oktober 2023 dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/abdominal-aortic-aneurysm/symptoms-causes/syc-20350688
  1. Mayo Clinic. 2023. Thoracic aortic aneurysm. Diakses pada 1 Oktober 2023 dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/thoracic-aortic-aneurysm/symptoms-causes/syc-20350188 
  1. Nation, D. A., & Wang, G. J. (2015). TEVAR: Endovascular Repair of the Thoracic Aorta. Seminars in interventional radiology, 32(3), 265–271. https://doi.org/10.1055/s-0035-1558824 
  2. WebMD. 2022. What Surgeries Treat Aortic Aneurysm?. Diakses pada 1 Oktober 2023 dari https://www.webmd.com/heart-disease/what-surgeries-treat-aortic-aneurysm
Berobat Jantung di Malaysia

Berobat Jantung di Malaysia: Cara dan Estimasi Biaya

Malaysia merupakan negara yang ideal untuk pergi berobat jantung, terutama karena pemerintahan Malaysia berfokus pada bidang kesehatan internasional. Layanan kesehatan internasional Malaysia memiliki kualitas, regulasi, dan standar keamanan yang terjamin.

Jumlah pasien turis yang mengunjungi Malaysia sebanyak 643 ribu orang di tahun 2011 dan berkembang menjadi 1,2 juta di tahun 2018. Malaysia memperoleh penghasilan sebesar USD 127 juta di bidang pengobatan internasional pada tahun 2011 dan USD 362 juta di tahun 2018.

Mengapa Berobat Jantung di Malaysia?

Malaysia merupakan destinasi populer bagi turis asing berobat. Setiap tahun ratusan ribu orang pergi ke Malaysia. Ini beberapa alasan mengapa Malaysia menjadi destinasi menarik untuk berobat jantung:

  1. Teknologi Maju di Bidang Pengobatan Jantung: Malaysia mengutamakan layanan kesehatan di bidang kardiologi. Saat ini, Malaysia memiliki 33 pusat pengobatan jantung. 
  2. Layanan Kesehatan Khusus untuk Pasien Internasional: Pengobatan untuk pasien internasional di Malaysia diurus oleh lembaga khusus, yaitu Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). Pasien dari berbagai negara datang untuk berobat jantung di Malaysia, contohnya pasien dari negara Britania Raya, Indonesia, Filipina, Jepang, Australia, Cina, India, dan Amerika Serikat. Selanjutnya, MHTC menjadikan Asia Tenggara dan Timur Tengah sebagai target utama.
  3. Harga dan Kualitas Layanan Bersaing: Di Asia Tenggara, Malaysia bersaing dengan Singapura dan Thailand. Meskipun teknologi kesehatan di Singapura lebih maju, banyak pasien yang memilih Malaysia karena harganya yang lebih terjangkau, sedangkan Malaysia bersaing ketat dengan Thailand karena memiliki kualitas dan harga yang hampir mirip.
  4. Akomodasi Lengkap: Terdapat hotel dan resort bagus, dekat dengan daerah wisata. Banyak orang yang menghabiskan waktu berlibur setelah operasi dan melakukan pemulihan sambil liburan.
  5. Minim Perbedaan Bahasa: Tenaga kesehatan di Malaysia lancar berbahasa Inggris, sehingga lebih mudah untuk berkomunikasi.
  6. Terjangkau: Tiket pesawat ke Malaysia tergolong murah.
  7. Persyaratan Dokumen Tidak Rumit: Tidak sulit bagi turis asing untuk berobat jantung di Malaysia. Turis liburan maupun pasien bisa tinggal di Malaysia selama 90 hari tanpa memerlukan visa.
  8. Tenaga Kesehatan Berkualitas: Banyak tenaga ahli kesehatan yang memiliki kualifikasi tinggi di bidang kardiologi.

Cara Berobat Jantung di Malaysia

1. Pilih Rumah Sakit yang Dituju

Anda dapat mengumpulkan informasi soal rumah sakit yang memiliki layanan berobat jantung di Malaysia, seperti mengecek fasilitas, kualifikasi dokter, serta layanan yang disediakan di rumah sakit tersebut. Periksa apakah asuransi kesehatan internasional dapat Anda gunakan. Apabila ada teman atau keluarga yang pernah berobat jantung di Malaysia, Anda dapat bertanya pada mereka.

2. Minta Referral dari Dokter Lokal

Lakukan konsultasi dengan dokter lokal dan minta referral untuk rumah sakit yang Anda tuju.

3. Kontak Rumah Sakit dan Membuat Janji Temu

Anda dapat mengirimkan catatan kesehatan Anda (seperti hasil pemeriksaan darah, foto, ekg, echo, obat-obatan dan riwayat operasi) serta kopi paspor/identitas melalui e-mail untuk dianalisis oleh rumah sakit yang Anda tuju. Setelah menentukan tindakan apa yang Anda butuhkan, buat janji temu untuk berobat jantung di Malaysia.

4. Menyiapkan Dokumen yang Dibutuhkan

Sejak 1 agustus 2022, semua turis dapat masuk ke Malaysia meskipun belum melakukan vaksinasi COVID-19 dan tidak perlu melakukan karantina.  Berikut adalah beberapa dokumen yang perlu disiapkan untuk berobat jantung di Malaysia:

  1. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan dengan satu halaman paspor yang kosong untuk stempel masuk.
  2. Visa tidak dibutuhkan apabila Anda tinggal di Malaysia kurang dari 90 hari.
  3. Tiket penerbangan ke Malaysia.
  4. Bukti booking hotel.

5. Menyiapkan Akomodasi, Transportasi, dan Rencana Setelah Berobat

Pastikan Anda memiliki transportasi ketika Anda sampai di Malaysia. Beberapa rumah sakit di Malaysia menyediakan layanan transportasi pasien turis dari bandara ke rumah sakit. Booking hotel yang dekat dengan rumah sakit yang Anda tuju, serta tentukan berapa lama Anda akan tinggal di Malaysia. Perhitungkan apakah ada pengobatan lanjutan atau rencana berlibur setelah berobat jantung di Malaysia.

Rumah Sakit Pilihan untuk Berobat Jantung di Malaysia

Ada banyak rumah sakit yang unggul dalam bidang berobat jantung di Malaysia. Berikut adalah beberapa rumah sakit yang disarankan untuk melakukan pengobatan jantung:

  • Island Hospital Penang
  • Gleneagles Hospital Penang dan Kuala Lumpur
  • Penang Adventist Hospital
  • Sunway Medical Centre
  • Pantai Hospital Penang dan Kuala Lumpur
  • Institute Jantung Negara
  • Cardiac Vascular Sentral Kuala Lumpur (CVSKL)

Estimasi Biaya Berobat Jantung di Malaysia

Biaya berobat jantung di Malaysia berbeda tergantung dengan rumah sakit yang Anda tuju. Berikut adalah perkiraan beberapa operasi jantung di Malaysia.

NoTindakanBiaya (RM)Biaya (Rupiah)
1.Operasi Angioplasti Jantung Koroner (ballooning)RM25-30,00098,5 juta
2.Operasi Bypass JantungRM55-70,000230 juta

Berobat Jantung di Malaysia dengan KavaLink

Apabila Anda masih kebingungan untuk membuat rencana berobat jantung di Malaysia, Anda dapat melakukan konsultasi dengan layanan medical travel facilitator KavaLink secara gratis. KavaLink dapat memberikan saran rumah sakit dan dokter, membuat janji temu dengan dokter, serta mengurus akomodasi dan transportasi untuk keberangkatan berobat Anda. Kami dapat dihubungi lewat WhatsApp 0857-8000-8707, berikut adalah layanan yang KavaLink berikan:

  • Konsultasi gratis untuk rekomendasi rumah sakit dan dokter
  • Konsultasi untuk estimasi biaya berobat
  • Buat janji konsultasi dengan dokter secara tatap muka atau online
  • Membuat booking akomodasi dan transportasi selama berobat
  • Melakukan pendaftaran medical check up, dan lain-lain.

Sumber:

  1. 10 Reasons Why Malaysia Is The Best For Medical Tourism. Diakses 28 September 2022, dari https://www.homage.com.my/resources/malaysia-best-medical-tourism/
  2. Best Cardiology Hospitals and Cost in Malaysia. Diakses 28 September 2022, dari https://www.lyfboat.com/hospitals/cardiology-hospitals-and-costs-in-malaysia/
  3. Foreign travel advice: Malaysia. Diakses 5 September 2022, dari https://www.gov.uk/foreign-travel-advice/malaysia/entry-requirements
  4. How Much Do The Most Common Critical Illnesses In Malaysia Cost? Diakses 5 September 2022, dari https://ringgitplus.com/en/blog/sponsored/how-much-do-the-most-common-critical-illnesses-in-malaysia-cost.html
  5. Malaysia: An Emerging Global Giant in Medical Tourism. Diakses 28 September 2022, dari https://www.magazine.medicaltourism.com/article/malaysia-an-emerging-global-giant-in-medical-tourism
  6. Medical Tourism in Malaysia. Diakses 28 September 2022, dari https://www.wonderfulmalaysia.com/medical-tourism-in-malaysia.htm
  7. Travelling to Malaysia. Diakses 5 September 2022, dari https://travel.state.gov/content/travel/en/international-travel/International-Travel-Country-Information-Pages/Malaysia.html
  8. Why Medical Tourism in Malaysia is Booming. Diakses 28 September 2022, dari https://internationalliving.com/why-medical-tourism-in-malaysia-is-booming/
Kardioversi

Kardioversi

Apa Itu Kardioversi?

Kardioversi adalah sebuah prosedur medis yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi ritme jantung tidak teratur (aritmia). Terdapat dua jenis kardioversi, yakni melalui obat-obatan (kardioversi kimiawi) atau energi listrik (kardioversi elektrik). Prosedur ini sangat penting dilakukan terutama untuk mengatasi gangguan aritmia ventrikel, yakni salah satu jenis aritmia yang berasal dari bilik jantung dan dapat mengancam nyawa penderitanya.

Kapan Kardioversi Dibutuhkan?

Siapa Saja yang Membutuhkan?

Kardioversi dapat membantu pemulihan berbagai jenis kondisi ritme jantung tidak teratur (aritmia), seperti:

  • Fibrilasi atrium, merupakan gangguan percepatan detak jantung abnormal yang dapat menghambat aliran darah akibat adanya penggumpalan darah pada jantung, tepatnya bagian serambi jantung.
  • Atrial flutter, yaitu gangguan irama jantung yang berasal dari serambi jantung.
  • Takikardia ventrikular, yaitu gangguan aritmia yang terjadi pada bilik (ruang bawah) jantung. 
  • Fibrilasi ventrikel, yang memiliki kemiripan dengan takikardia ventrikular, di mana gangguan percepatan irama jantung terjadi pada bilik jantung tetapi terjadi dalam pola yang abnormal dan berantakan.

Manfaat Kardioversi

Kardioversi bermanfaat untuk memulihkan gejala aritmia yang dialami oleh pasien, serta untuk mengembalikan irama jantung sebagaimana mestinya. Prosedur medis ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja jantung.

Prosedur ini dapat dilakukan melalui dua cara yang berbeda, yakni melalui obat-obatan (kardioversi kimiawi) dan energi listrik (kardioversi elektrik). Kardioversi juga dapat dilakukan pada ibu hamil, walaupun detak jantung bayi harus selalu dimonitor ketika pengobatan sedang berlangsung.

Risiko Kardioversi

Kardioversi tetap tak lepas dari beberapa potensi komplikasi. Beberapa risiko kardioversi yang dapat dialami oleh pasien sesuai dengan jenisnya masing-masing, yaitu:

Kardioversi Elektrik

  • Metode ini dapat meningkatkan potensi pembekuan darah yang dapat berakibat pada stroke.
  • Pasien dapat mengalami ketergantungan pada obat-obatan antikoagulan dan antiaritmia.
  • Efek yang dirasakan umumnya hanya bertahan sementara.
  • Pengobatan dapat tertunda bila pasien belum menjalani terapi antikoagulan untuk menghambat pembekuan darah.

Kardioversi Kimiawi

  • Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulihkan irama jantung.
  • Kurang efektif dibandingkan kardioversi elektrik.
  • Efek yang dirasakan umumnya hanya bertahan sementara.

Selain itu, dalam beberapa kasus, kardioversi justru dapat menyebabkan gangguan irama jantung lainnya yang umumnya akan terjadi beberapa menit setelah prosedur selesai. Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan kematian pada pasien.

Pasien juga dapat mengalami luka bakar ringan akibat sensor yang disematkan pada kulit ketika prosedur kardioversi elektrik dilakukan.

Prosedur Kardioversi

Tahap Pelaksanaan Prosedur Kardioversi

Pasien biasanya perlu membuat janji terlebih dahulu dengan rumah sakit untuk menjalani tindakan kardioversi. Namun, dalam kasus-kasus serius di mana gejala aritmia yang dialami pasien memburuk secara drastis, kardioversi dapat dilakukan sebagai tindakan darurat tanpa perlu membuat janji terlebih dahulu.

Umumnya, pasien tidak diperkenankan untuk mengonsumsi apa pun (baik makanan maupun minuman) selama 8 jam sebelum tindakan kardioversi dilaksanakan. Prosedur pengobatan ini biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dengan cara yang berbeda untuk masing-masing jenis kardioversi.

Bagi pasien yang menjalani kardioversi kimiawi, obat-obatan akan diberikan melalui injeksi intravena (IV). Sementara itu, bagi pasien yang menjalani kardioversi elektrik, seorang tenaga medis biasanya akan menyematkan sensor yang terhubung dengan alat kardioversi di area dada pasien. Alat tersebut akan membantu memulihkan irama denyut jantung pasien dengan mengirimkan kejutan listrik yang cepat dan berenergi rendah.

Setelah tindakan selesai, pasien akan ditempatkan di ruang pemulihan untuk memantau kemungkinan komplikasi. Pasien juga harus mengonsumsi obat pengencer darah untuk mencegah pembekuan darah.

Setelah Kardioversi: Apa yang Harus Dilakukan?

Perawatan

Pasca kardioversi, sangat penting bagi pasien untuk mendapatkan istirahat yang cukup. Pasien dapat makan, minum, dan mandi seperti biasa. Namun, pasien yang menjalani kardioversi dengan bius total tidak diperbolehkan untuk menyetir, bekerja, membuat keputusan-keputusan penting, mengonsumsi alkohol, dan mengoperasikan mesin selama setidaknya satu hari setelah prosedur dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa efek bius total telah benar-benar hilang dari tubuh pasien.

Jika pasien merasakan sakit atau tidak nyaman pada area di mana kejutan listrik diberikan, maka pasien diperbolehkan untuk mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter. Selain itu, pasien juga dapat membalurkan pelembap tanpa parfum di bagian kulit yang kemerahan akibat sensor kardioversi untuk membantu mengurangi iritasi dan memulihkan kondisi kulit.

Bila terdapat perubahan pada denyut jantung setelah kardioversi dilaksanakan, pasien dianjurkan untuk segera menghubungi dokter dan menjalani elektrokardiogram (ECG) untuk memeriksa kondisi jantungnya. Pasien juga harus terus mengonsumsi obat-obatan antikoagulan demi mencegah terbentuknya gumpalan darah yang dapat memicu terjadinya stroke.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Kardioversi bukan prosedur yang tidak memiliki risiko. Beberapa komplikasi yang terjadi saat prosedur dinyatakan selesai, seperti misalnya rasa pusing yang mungkin akan terjadi akibat penurunan tekanan darah, biasanya hanya bersifat sementara. Selain itu, pasien juga mungkin akan merasakan ketidaknyamanan pada area tubuh di mana kejutan listrik diberikan.

Pada kasus-kasus yang lebih serius, kardioversi dapat meningkatkan potensi pembekuan darah yang dapat mengakibatkan stroke. Kardioversi juga dapat menimbulkan risiko yang lebih berbahaya, seperti adanya gangguan irama jantung yang dapat berujung kematian.

Maka itu, penting bagi pasien untuk memeriksakan kondisi jantung terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan kardioversi.

Perubahan Gaya Hidup yang Diperlukan

Untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah munculnya penyakit lain yang dapat memicu terjadinya aritmia, pasien dianjurkan untuk:

  • Membatasi atau menghindari konsumsi minuman beralkohol.
  • Mengurangi konsumsi garam untuk menurunkan tekanan darah, karena tekanan darah tinggi dapat memicu aritmia.
  • Mengonsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, serta daging-dagingan dan produk susu berlemak rendah.
  • Mengurangi konsumsi gula dan makanan dengan kandungan lemak jenuh dan lemak trans.
  • Rajin berolahraga dan mempertahankan berat badan ideal.
  • Berhenti merokok.
  • Belajar untuk menangani stres dan emosi.

Pertanyaan Umum Seputar Kardioversi

Apa Bedanya Kardioversi dengan Defibrilasi?

Kardioversi dan defibrilasi adalah dua prosedur medis yang berbeda, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni untuk mengembalikan fungsi listrik jantung hingga normal kembali dan bersifat gawat darurat. Perbedaan keduanya terdapat pada energi yang digunakan. Defibrilasi biasanya dilakukan menggunakan kejutan listrik berenergi tinggi, sedangkan kardioversi dilakukan dengan kejutan listrik berenergi rendah untuk menormalkan kembali ritme detak jantung yang abnormal.

Apabila Anda memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kardioversi, jangan ragu untuk segera menghubungi kami di nomor Whatsapp 0877-8777-8614. Kami menyediakan layanan homecare untuk pendampingan di rumah, telekonsultasi seputar penyakit jantung, atau persiapan berobat jantung di dalam negeri atau luar negeri.

Sumber:

  1. Cardioversion: Procedure, Treatment & Recovery. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16952-electrical-cardioversion. Diakses 28 April 2023.
  2. Atrial fibrillation – Symptoms and causes – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-fibrillation/symptoms-causes/syc-20350624. Diakses 28 April 2023.
  3. Atrial flutter – Symptoms and causes – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-flutter/symptoms-causes/syc-20352586. Diakses 28 April 2023.
  4. Ventricular tachycardia – Symptoms and causes – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ventricular-tachycardia/symptoms-causes/syc-20355138. Diakses 28 April 2023.
  5. Cardioversion: Types, Preparation, Pros and Cons, FAQs. https://www.healthline.com/health/heart-disease/cardioversion#electrical-vs-chemical. Diakses 28 April 2023.
  6. Defibrillator vs Cardioversion: What You Should Know | aedusa.com. https://www.aedusa.com/knowledge/defibrillator-vs-cardioversion/. Diakses 28 April 2023.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah, Care Pro & Dokter Umum di Kavacare)

Ablasi Kateter

Ablasi Kateter

Apa Itu Ablasi Kateter?

Ablasi kateter adalah sebuah prosedur medis minimal invasif yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah irama detak jantung (aritmia) dengan menciptakan luka kecil di dalam jantung. Luka kecil ini dibuat menggunakan gelombang panas atau dingin yang disalurkan melalui kateter, dan berfungsi untuk menghentikan sinyal elektrik tak beraturan yang menjadi pemicu dari aritmia.

Kapan Dibutuhkan?

Siapa Saja yang Membutuhkannya?

Tindakan ablasi kateter dapat menjadi pilihan tepat bagi seseorang dengan kondisi, seperti:

  • Menderita aritmia.
  • Telah menjalani metode pengobatan lain untuk mengatasi aritmia, tetapi tidak berhasil.
  • Mengalami efek samping yang serius akibat metode pengobatan lain.
  • Menderita jenis aritmia yang cocok diatasi menggunakan metode ablasi, seperti sindrom Wolff-Parkinson-White atau takikardia supraventrikular.
  • Memiliki riwayat kesehatan yang meningkatkan peluang munculnya risiko komplikasi seperti serangan jantung.

Kontraindikasi

Terdapat beberapa kondisi yang mungkin dapat menjadi kontraindikasi dan mungkin perlu mencari alternatif dari prosedur ini, seperti:

  • Adanya kemungkinan terjadi DVT (deep vein thrombosis) dan PAD (peripheral artery disease) bila dokter memasukkan kateter pada pembuluh darah di kaki.
  • Adanya kemungkinan emboli bila pasien memiliki penggumpalan darah pada jantung.
  • Memiliki kelainan perdarahan, seperti mudah terluka dan berdarah, atau koagulopati.

Manfaat Ablasi Kateter

Prosedur ini merupakan prosedur invasif minimal yang biasanya tidak memerlukan waktu rawat inap terlalu lama di rumah sakit. Prosedur ini dapat menawarkan kesuksesan di luar terapi medis bagi banyak orang.

Jika Anda memiliki aritmia yang tidak dapat ditangani dengan obat-obatan, ablasi dapat mengembalikan fungsi jantung normal dan bahkan dapat menyelamatkan nyawa dalam beberapa kasus.

Risiko Ablasi Kateter

Meskipun tindakan ablasi kateter memiliki risiko yang rendah, prosedur ini memiliki beberapa risiko kekurangan, seperti:

  • Harus melakukan prosedur berulang.
  • Prosedur tidak dapat mengatasi permasalahan yang dialami.
  • Masih memerlukan obat-obatan untuk mengatasi palpitasi yang mungkin masih terjadi.
  • Munculnya aritmia lain.
  • Perlunya memerlukan obat pengencer darah untuk mencegah terjadinya stroke.

Prosedur Ablasi Kateter

Tahap Pelaksanaan Prosedur Ablasi Kateter

Ablasi kateter umumnya dilakukan di rumah sakit, dan seorang tenaga medis biasanya akan memberikan pasien obat-obatan sedatif melalui injeksi intravena (IV) agar pasien dapat merasa rileks.

Sebelum prosedur ablasi kateter dilaksanakan, terdapat satu prosedur penting yang wajib dilakukan terlebih dahulu untuk menentukan di mana saja ablasi kateter dapat dilakukan, yakni studi elektrofisiologi (EP). Prosedur ini juga berguna untuk mengetahui penyebab dari aritmia yang diderita oleh pasien.

Ablasi kateter kemudian dimulai dengan dimasukkannya kateter, yakni selang tipis dan fleksibel yang berfungsi untuk mengirim impuls elektrik serta merekam aktivitas elektrik jantung, melalui pembuluh darah menuju jantung.

Prosedur ablasi kateter umumnya menggunakan lebih dari satu kateter yang dimasukkan melalui area selangkangan, meskipun terkadang juga dapat dimasukkan melalui bahu atau leher. Cairan kontras juga dapat diinjeksikan ke dalam tubuh pasien melalui kateter untuk memperjelas gambaran pembuluh darah yang terpampang pada X-ray.

Terdapat dua teknik ablasi kateter yang dapat dilakukan untuk memperbaiki irama jantung pasien, di antaranya adalah dengan menggunakan gelombang panas dari radiofrekuensi, atau dengan gelombang sangat dingin melalui krioablasi.

Teknikablasi kateter yang digunakan bergantung pada jenis aritmia yang diderita pasien, begitu juga dengan durasi tindakan ablasi yang dapat bervariasi antara tiga hingga enam jam.

Setelah tindakan selesai, pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan untuk beberapa jam guna memantau kondisi pasca tindakan. Pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa dalam beberapa hari setelah tindakan ablasi kateter dilakukan.

Setelah Ablasi Kateter: Apa yang Harus Dilakukan?

Perawatan

Setelah ablasi kateter dilakukan, penting bagi pasien untuk terus melakukan pengecekan jantung secara berkala. Hal ini perlu dilakukan sebab walaupun irama detak jantung telah kembali normal pasca ablasi kateter, gejala-gejala abnormal dapat tetap kembali muncul.

Dengan melakukan pengecekan jantung secara rutin, pasien dapat mengurangi risiko penurunan kondisi jantung. Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat guna meningkatkan kesehatan dan mencegah terulangnya gejala aritmia.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Ablasi kateter adalah sebuah tindakan medis minimal invasif yang aman dan rendah risiko. Meskipun demikian, komplikasi tetap dapat terjadi dalam kasus-kasus langka. Beberapa risiko komplikasi yang dapat dialami oleh pasien setelah menjalani tindakan ablasi kateter, yaitu:

  • Penggumpalan darah pada pembuluh arteri di kaki, jantung, atau otak.
  • Kerusakan pada area arteri di mana kateter dimasukkan.
  • Kerusakan pada katup jantung.
  • Kerusakan pada pembuluh darah yang membawa darah ke jantung (arteri koroner).
  • Fistula atrium esofagus (sambungan abnormal yang terbentuk antara esofagus dan jantung).
  • Cairan di sekitar jantung (tamponade jantung).
  • Serangan jantung.
  • Kerusakan pada saraf vagus atau frenik.

Perubahan Gaya Hidup yang Diperlukan

Untuk mencegah terulangnya gejala aritmia pasca ablasi kateter, pasien disarankan untuk melakukan beberapa perubahan gaya hidup, seperti:

  • Mengontrol berat badan dan menjaga berat badan ideal.
  • Berhenti merokok, karena nikotin dapat mempersempit pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dari seharusnya.
  • Mengontrol tekanan darah secara rutin.
  • Makan makanan sehat, seperti buah-buahan, sayur, dan biji-bijian utuh yang rendah lemak jenuh, kolesterol, dan sodium, dan mengurangi konsumsi makanan berkolesterol tinggi serta meminum obat-obatan kolesterol bila diperlukan.
  • Mengontrol asupan gula, terutama bagi penderita diabetes.
  • Menghindari konsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan.
  • Mengontrol stres dan emosi.
  • Pasien yang mengalami aritmia serta memiliki masalah tidur apnea atau gangguan tiroid disarankan untuk melakukan pengobatan, karena kedua kondisi tersebut dapat memicu timbulnya aritmia.
  • Rajin berolahraga minimal 30 hingga 60 menit setiap harinya. Berolahraga secara rutin dapat membantu mengontrol diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi. Namun, penting bagi pasien untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk menyusun program olahraga yang sesuai dengan riwayat kesehatan masing-masing.

Pertanyaan Umum Seputar Ablasi Kateter

Apakah Ada Alternatif Penanganan Aritmia Lain Selain Ablasi Kateter?

Selain ablasi kateter, Anda dapat menjalani prosedur medis kardioversi elektrik untuk mengatasi aritmia yang diderita.

Kardioversi elektrik merupakan tindakan medis yang bertujuan untuk mengembalikan irama detak jantung yang tidak normal dengan cara memberikan kejutan listrik yang cepat dan berenergi rendah pada dada pasien, yang dilakukan hanya pada kondisi gawat darurat. Anda juga dapat mengonsumsi obat-obatan guna menstabilkan kembali irama detak jantung yang abnormal. 

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan implan untuk mengatasi masalah aritmia, seperti alat pacu jantung atau implan defibrilator kardioverter (ICD). Operasi jantung terbuka juga dapat dilakukan untuk menghancurkan jaringan dalam jantung yang menyebabkan aritmia.

Apakah Ablasi Kateter Dapat Menyembuhkan Aritmia Secara Total?

Ablasi kateter tidak dapat menyembuhkan aritmia secara total. Anda masih perlu melakukan pengawasan terhadap irama jantung pasca tindakan, dan mungkin perlu menjalani perawatan tambahan bila gejala aritmia kembali muncul.

Selain itu, Anda juga mungkin masih perlu mengonsumsi obat-obatan jantung untuk menjaga irama jantung agar tetap stabil setelah ablasi dilakukan.

Berapa Biaya Prosedur Ablasi Kateter?

Biaya prosedur ablasi kateter dapat bervariasi dari 108 juta rupiah hingga 180 juta rupiah, tergantung dengan jenis dan tingkat keparahan aritmia yang diderita pasien. Selain itu, biaya juga dapat dipengaruhi oleh rumah sakit di mana tindakan ini akan dilakukan.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai tindakan ablasi kateter di dalam maupun luar negeri. Dapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter, perhitungan estimasi biaya, hingga pengaturan janji temu dan akomodasi.

Sumber:

  1. Catheter Ablation – StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470203/. Diakses 10 Agustus 2023.
  2. Cardiac ablation – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/cardiac-ablation/about/pac-20384993. Diakses 28 April 2023.
  3. Cardiac ablation procedures : MedlinePlus Medical Encyclopedia. https://medlineplus.gov/ency/article/007368.htm. Diakses 28 April 2023.
  4. Pros and Cons of Medication vs. Ablation for Atrial Fibrillation | Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/atrial-fibrillation/treatment/pros-cons-medication-ablation-atrial-fibrillation/. Diakses 28 April 2023.
  5. LIFE AFTER CATHETER ABLATION – (ourheartdr.com). https://ourheartdr.com/heart-health/about-catheter-ablation/treatment-options-catheter-ablation-for-atrial-fibrillation/life-after-catheter-ablation/. Diakses 28 April 2023.
  6. Biaya Pasang Alat Pacu Jantung dan Ablasi di Eka Hospital (suara.com). https://www.suara.com/health/2021/09/16/170558/biaya-pasang-alat-pacu-jantung-dan-ablasi-di-eka-hospital. Diakses 28 April 2023.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah, Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Anticoagulant

Anticoagulant

Normalnya darah memiliki kemampuan untuk membeku. Pembekuan darah ini dilakukan otomatis untuk menghentikan perdarahan pada luka. Namun pembekuan darah juga bisa terjadi secara abnormal dan mengganggu fungsi-fungsi tubuh, misalnya menyumbat pembuluh darah atau muncul di organ lain. Untuk menangani kondisi ini, diberikan obat antipembekuan darah atau anticoagulant.

Berikut informasi lengkap mengenai obat anticoagulant.

Apa Itu Anticoagulant?

Normalnya darah memiliki kemampuan hemostasis atau pembentukan gumpalan. Hemostasis terbagi menjadi 4 fase.

Fase pertama adalah respons cedera dengan pembentukan sumbatan oleh trombosit, fase kedua aktivasi proenzim yang memastikan aliran darah tidak melewati area cedera, fase ketiga adalah luruhnya gumpalan agar darah tetap bisa mengalir, dan terakhir fase ke empat di mana zat fibrin mengelilingi sumbatan trombosit, sekaligus proses penyembuhan luka.

Anticoagulant adalah sekelompok obat-obatan yang mengurangi kemampuan pembekuan darah. Obat ini akan memicu tubuh meluruhkan gumpalan darah yang telah ada atau mencegah penggumpalan baru.

Anticoagulant memiliki berbagai bentuk, seperti injeksi, obat infus, dan obat-obatan yang dikonsumsi secara oral. Seringkali antigoagulant diberikan untuk menangani kondisi-kondisi yang mengancam nyawa, seperti stroke, serangan jantung, dan emboli paru.

Jenis-jenis Anticoagulant

Jenis anticoagulant yang paling banyak diresepkan adalah warfarin. Selain itu ada beberapa jenis obat antikoagulasi, yaitu:

  • Rivaroxaban (Xarelto)
  • Dabigatran (Praxada)
  • Apixaban (Eliquis)
  • Edoxaban (Lixiana)

Warfarin dan jenis-jenis alternatif anticoagulant terbaru biasanya berbentuk tablet. Ada pula jenis anticoagulant yang bisa diberikan dalam bentuk injeksi, yaitu heparin.

Siapa yang Membutuhkan Anticoagulant?

Anticoagulant dibutuhkan oleh orang-orang yang berisiko mengalami penggumpalan darah atau telah mengalami kondisi tersebut. Ketika pembekuan darah terjadi secara abnormal dan gumpalan darah tersebut terus bergerak di dalam pembuluh darah, berisiko terjadi masalah kesehatan serius.

Gumpalan darah terlalu besar bisa menyumbat pembuluh yang lebih sempit. Jika pembuluh ini terletak di lokasi vital, bisa terjadi penyumbatan yang memicu organ-organ penting kekurangan asupan darah*.

Sumbatan akibat penggumpalan darah bisa menyebabkan masalah-masalah kesehatan serius seperti:

  • Stroke, gumpalan darah sangat berbahaya jika mencapai otak. Gumpalan ini sangat mudah menyumbat pembuluh-pembuluh darah berukuran kecil pada otak
  • Emboli paru, kondisi ini terjadi ketika gumpalan darah terjebak dan menyumbat pembuluh darah arteri di paru-paru. Jika sumbatan ini sangat parah, emboli paru bisa mengancam nyawa
  • Serangan jantung (infark miokard), serangan jantung terjadi saat arteri yang berfungsi sebagai saluran suplai darah tersumbat oleh gumpalan darah. Serangan jantung juga bisa mengancam nyawa
  • Pengguna katup jantung buatan, obat antipembekuan darah yang berinteraksi dengan vitamin K diberikan pada pasien dengan katup jantung buatan*
  • Aneurisma bilik kiri jantung, komplikasi dari serangan jantung, timbulnya tonjolan pada bilik jantung*
  • Tromboemboli vena, pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah vena. Anticoagulant juga diberikan untuk pencegahan kondisi ini*

Anticoagulant bisa melindungi orang-orang dengan kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan terkait penggumpalan darah tersebut.

Maka pasien-pasien dengan kondisi ini biasanya diresepkan anticoagulant:

  • Fibrilasi atrial, kondisi di mana terjadi detak jantung yang tidak normal. Pada kondisi ini, darah bisa menumpuk di kamar atas jantung akibat detak jantung terlalu cepat dan tidak efektif memompa darah. Penumpukan darah ini bisa menyebabkan penggumpalan dan meningkatkan risiko stroke
  • Penggantian atau operasi saluran jantung, beberapa jenis penggantian saluran jantung bisa meningkatkan risiko timbulnya penggumpalan darah
  • Operasi penggantian lutut atau panggul, operasi penggantian sendi bisa meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah di pembuluh-pembuluhh yang terletak pada kaki. Kondisi ini bisa memicu emboli paru
  • Kelainan pembekuan darah, ada beberapa kondisi medis yang menyebabkan kelainan pada kemampuan pembekuan darah. Kelainan-kelainan ini bisa dipicu faktor genetik.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Menggunakan Anticoagulant

Anticoagulant tidak dianjurkan diberikan pada pasien dengan kondisi:

  • Perdarahan aktif
  • Gangguan perdarahan atau koagulopati
  • Baru menjalani operasi besar
  • Perdarahan akut di dalam tengkorak
  • Trauma berat

Jika Anda diresepkan anticoagulant, penggunaannya harus selalu mengikuti aturan dari dokter. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti:

1. Menjalani Operasi

Pada pasien yang perlu mengonsumsi anticoagulant tetapi harus menjalani operasi atau prosedur-prosedur invasif lainnya, harus memberitahukan dokter mengenai obat yang dikonsumsi. Prosedur ini termasuk endoskopi, sistoskopi, serta prosedur pada gigi dan mulut.

Obat antikoagulasi mengurangi kemampuan pembekuan darah, maka menjalani prosedur invasif meningkatkan risiko terjadinya perdarahan lebih parah. Kemungkinan dokter akan menganjurkan pasien menghentikan lebih dulu konsumsi anticoagulant sebelum prosedur invasif dilakukan.

2. Kehamilan

Penggunaan obat ini pada kehamilan harus sangat diperhatikan. Ibu hamil memiliki risiko 5 kali lipat mengalami penggumpalan darah pada pembuluh darah vena dengan peningkatan hingga 20 kali lipat saat masa nifas.

Anticoagulant jenis warfarin biasanya tidak dianjurkan dikonsumsi ibu hamil karena dapat mempengaruhi kondisi janin. Risiko yang dapat timbul seperti cacat lahir atau perdarahan hebat dari plasenta dan janin.

Obat antikoagulasi mungkin bisa dikonsumsi pada trimester kedua kehamilan. Namun obat ini tidak boleh diberikan pada trimester pertama dan ketiga.

Sebaiknya hindari kehamilan jika masih perlu mengonsumsi anticoagulant. Namun jika terjadi kehamilan pada saat proses pengobatan, segera hubungi dokter untuk menghentikan obat atau mengubah dosis.

3. Menyusui

Anticoagulant seperti warfarin dan heparin aman diberikan saat menyusui, tetapi sebaiknya dikonsultasikan lebih dulu pada bidan atau dokter.

Jenis obat antikoagulasi yang tidak bisa diberikan pada ibu menyusui adalah Apixaban, Dabigatran, Edoxaban, dan Rivaroxaban. Obat-obatan ini belum memiliki dukungan studi yang membuktikan jika mereka aman dikonsumsi saat menyusui.

4. Menghindari Cedera

Mengonsumsi anticoagulant menyebabkan pasien lebih rentan mengalami perdarahan jika terjadi cedera. Maka usahakan untuk menghindari cedera minor serta tergores.

Pasien harus lebih berhati-hati saat menggosok gigi, mencukur, menghindari gigitan serangga, serta mencegah terjadinya insiden saat menggunakan benda-benda tajam atau ketika berolahraga.

5. Reaksi dengan Obat-obatan Lain

Pasien yang mengonsumsi anticoagulant harus menginformasikan pada dokter sebelum menerima atau mengonsumsi resep obat maupun suplemen lainnya. Hal ini karena anticoagulant bisa bereaksi dengan jenis obat, suplemen, atau bahan herbal.

Beberapa jenis obat yang bisa mempengaruhi efektivitas anticoagulant jika dikonsumsi berbarengan yaitu:

  • Antibiotik
  • Antidepresan
  • Obat-obatan untuk meredakan inflamasi (steroid)
  • Obat-obata untuk epilepsi
  • Obat antiinflamasi nonsteroidal (OAINS), seperti ibuprofen.

6. Makanan dan Minuman

Penting untuk menerapkan pola makan sehat dan seimbang yang terdiri dari banyak buah serta sayuran jika pasien mengonsumsi anticoagulant. Namun perlu diperhatikan jumlah sayur-sayuran hijau atau makanan yang tinggi kandungan vitamin K, karena bisa mempengaruhi kinerja anticoagulant jenis warfarin.

Konsumsi alkohol pun perlu diperhatikan selama masih menjalani terapi pengobatan dengan anticoagulant jenis warfarin. Alkohol bisa mempengaruhi efektivitas warfarin.

Konsultasikan lebih detail tentang pola makan selama mengonsumsi warfarin dengan dokter atau tenaga kesehatan medis profesional yang menangani Anda.

Aturan Penggunaan Anticoagulant

Anticoagulant adalah obat yang diberikan dan dikonsumsi berdasarkan resep dokter. Maka cara menggunakannya akan dijelaskan oleh dokter atau suster yang menangani Anda, termasuk dosis serta kapan anticoagulant perlu diminum.

Kebanyakan obat ini dikonsumsi dalam bentuk tablet atau kapsul dengan dosis 1 – 2 kali sehari, dianjurkan dikonsumsi bersama dengan air atau makanan.

Berapa lama pasien perlu mengonsumsi anticoagulant berbeda-beda pada setiap individu, tergantung kondisi penyebabnya. Banyak pasien harus mengonsumsi obat ini seumur hidup.

Cara Kerja Anticoagulant

Normalnya tubuh memiliki kemampuan untuk membekukan dan mencegah terjadinya pembekuan darah. Jika darah tidak bisa membeku dengan cepat, cedera atau luka bisa menyebabkan perdarahan parah. Namun jika darah terlalu cepat membeku, bisa terjadi penggumpalan darah yang membahayakan.

Ada komponen dalam darah yang bekerja untuk menjaga proses pembekuan darah berjalan sesuai situasi. Jika proses ini berjalan dengan baik, maka pembekuan darah sangat membantu dalam menjaga kondisi tubuh, melindungi luka dari terjadinya infeksi.

Anticoagulant bekerja dengan mengintervensi proses pembekuan darah. Obat ini mencegah atau membatalkan pembekuan darah. Tergantung jenisnya, anticoagulant menghambat pembekuan darah dengan berbagai proses.

Efek Samping Anticoagulant

Mengonsumsi anticoagulant memiliki efek samping seperti pasien lebih mudah mengalami perdarahan. Hal ini bisa menimbulkan kondisi seperti*:

  • Urine dan feses berdarah, feses bisa berwarna kehitaman
  • Memar parah
  • Mimisan yang lebih lama
  • Gusi berdarah
  • Muntah atau batuk berdarah
  • Perdarahan haid yang lebih deras
  • Dispepsia
  • Napas pendek, sesak napas
  • Pusing dan sakit kepala
  • Nyeri perut
  • Gejala-gejala seperti gastritis.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan anticoagulant. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Anticoagulant medicines. https://www.nhs.uk/conditions/anticoagulants/ diakses 18 Februari 2023
  2. Anticoagulants (Blood Thinners): What They Do, Types and Side Effects. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/22288-anticoagulants diakses 18 Februari 2023
  3. Anticoagulation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560651/ diakses 31 Maret 2023
  4. Anticoagulants: A Review of the Pharmacology, Dosing, and Complications. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3654192/ diakses 31 Maret 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Nitrogliserin

Nitrogliserin

Nitrogliserin adalah obat yang digunakan untuk mencegah angina atau nyeri dada yang timbul pada pengidap penyakit jantung koroner. Pada kasus serangan angina, nitrogliserin juga digunakan sebagai obat untuk meredakannya.

Berikut informasi lengkap mengenai penggunaan nitrogliserin.

Apa Itu Nitrogliserin?

Nitrogliserin termasuk dalam kelompok obat-obatan nitrat. Jenis obat ini paling banyak digunakan dalam bentuk tablet yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Pada dasarnya, efek dari nitrogliserin adalah relaksasi otot yang membantu melebarkan pembuluh darah.

Jika digunakan secara rutin dalam jangka panjang atau dikonsumsi sebelum melakukan aktivitas yang meningkatkan stres, nitrogliserin bisa mencegah terjadinya serangan angina.

Nitrogliserin bisa didapatkan dalam bentuk spray, tablet, kapsul lepas tunda, dan bubuk.

Siapa yang Membutuhkan Nitrogliserin?

Nitrogliserin bisa digunakan untuk menangani kondisi seperti:

  • Angina (angina pectoris, angina pectoris prophylaxis, angina Prinzmetal)
  • Infark miokard
  • Penyakit kardiovaskular
  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung
  • Preeklampsia atau eklampsia
  • Penyakit jantung iskemik
  • Hipertensi dengan gagal jantung atau masalah ginjal
  • Robekan pada ujung usus besar atau terbentuknya saluran di ujung usus besar (fisura ani dan fistula ani).

Nitrogliserin tetapi tidak dianjurkan untuk pasien dengan kondisi:

  • Memiliki alergi nitrat
  • Mengonsumsi obat-obatan PDE inhibitor, seperti sildenafil dan tadalafil
  • Mengonsumsi obat untuk perawatan hipertensi arteri pulmonari dan hipertensi thromboembolik pulmonari kronis
  • Mengidap infark pada ventrikel kanan jantung
  • Kardiomiopati hipertrofi (penebalan otot jantung)

Secara umum, nitrogliserin digunakan untuk mengatasi angina. Angina adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang disebabkan jantung tidak mendapat asupan darah yang cukup. Biasanya angina dirasakan seperti nyeri yang menekan dan sesak. Nyeri angina bisa dirasakan pada dada, leher, lengan (terutama lengan kiri), dan rahang bagian bawah.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Nitrogliserin

Riwayat Alergi

Sebelum diresepkan nitrogliserin, pasien harus memberitahu dokter jika memiliki riwayat alergi baik pada nitrogliserin atau obat-obatan lainnya. Pasien juga harus memberitahu alergi lain yang dimiliki, seperti alergi pada makanan, pewarna, pengawet, atau hewan.

Nitrogliserin juga bisa bereaksi dengan obat-obatan, vitamin, atau obat herbal yang dikonsumsi. Interaksi ini bisa mengubah efektivitas dan cara kerja obat, bahkan menimbulkan efek berbahaya. Maka untuk mencegah terjadinya interaksi ini, pasien diharapkan untuk memberitahu secara lengkap obat-obatan, suplemen, dan obat herbal yang sedang dikonsumsi.

Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bersamaan dengan Nitrogliserin

Jenis obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan nitrogliserin karena bisa menimbulkan efek berbahaya antara lain:

  • Sildenafil, tadalafil, vardenafil, dan avanafil. Reaksi obat-obatan ini dengan nitrogliserin bisa menyebabkan tekanan darah terlalu rendah
  • Ergotamine, mengonsumsi obat ini bersama dengan nitrogliserin memicu nyeri dada lebih parah
  • Riociguat, interaksinya dengan nitrogliserin menyebabkan tekanan darah sangat rendah.

Selain itu, nitrogliserin sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menangani kondisi depresi seperti amitriptyline, desipramine, dan doxepine. Efektivitas nitrogliserin bisa berkurang karena obat-obatan ini menyebabkan berkurangnya kadar air liur dan mulut lebih kering, sehingga nitrogliserin tidak bisa larut dan bekerja sebagaimana mestinya.

Efek samping nitrogliserin bisa lebih parah jika bereaksi dengan obat-obatan tertentu. Jika pasien mengonsumsi obat-obatan ini, sebaiknya informasikan ke dokter untuk dilakukan penyesuaian dosis, yaitu:

  • Acetylcysteine
  • Apomorphine
  • Aspirin
  • Dihydroergotamine
  • Pancuronium

Pasien yang mengonsumsi alkohol juga perlu menginformasikan pada dokter. Nitrogliserin bisa bereaksi dengan alkohol, memicu tekanan darah terlalu rendah.

Kondisi Tertentu

Ada beberapa kondisi medis yang perlu diperhatikan jika hendak mengonsumsi nitrogliserin karena ada kemungkinan memperburuk masalah kesehatan tersebut. Pasien dengan kondisi-kondisi ini sebaiknya memberitahu dokter:

  • Anemia
  • Tumor otak
  • Gagal atau syok fungsi sirkulasi
  • Serangan jantung
  • Cedera kepala, terutama dengan tekanan di area kepala
  • Gagal jantung kongestif
  • Penyakit jantung, seperti kardiomiopati hipertropik, perikarditis konstriktif
  • Tekanan darah rendah
  • Volume darah rendah atau hipovolemia.

Pada ibu hamil atau menyusui, sebaiknya konsultasikan lebih dulu pada dokter sebelum diresepkan nitrogliserin. Belum ada studi yang menemukan nitrogliserin berdampak pada kehamilan, tetapi perlu pertimbangan dokter untuk menggunakannya dalam keadaan hamil. Sedangkan pada ibu menyusui, perlu diketahui jika nitrogliserin bisa masuk ke ASI dan menyebabkan efek samping pada bayi yang meminumnya*.

Aturan Penggunaan Nitrogliserin

Nitrogliserin umumnya diberikan dalam bentuk tablet yang diserap secara sublingual, atau tidak boleh ditelan dan dikunyah. Tablet nitrogliserin hanya boleh diberikan sesuai arahan dokter. Biasanya tablet diletakkan di bawah lidah, kemudian dibiarkan larut dan diserap oleh air liur pada mulut*.

Ada 3 dosis nitrogliserin tablet sublingual, yaitu 0.3 mg, 0.4 mg, dan 0.6 mg. Dosis-dosis ini bisa diulang setiap 5 menit hingga nyeri reda. Jika nyeri angina masih terasa setelah 3 kali dosis, maka pertolongan medis harus segera diberikan*.

Pemberian dosis nitrogliserin dalam tablet sublingual biasanya ditentukan dari*:

  • Usia
  • Kondisi yang perlu ditangani
  • Seberapa parah kondisi pasien
  • Kondisi medis penyerta
  • Bagaimana reaksi pasien terhadap dosis pertama.

Selain itu nitrogliserin juga bisa diberikan secara intravena atau melalui infus. Pemberian nitrogliserin lewat infus paling sering dilakukan di IGD atau ICU.

Nitrogliserin diberikan secara intravena pada kondisi-kondisi seperti adanya gejala jantung koroner, kegawatan tekanan darah tinggi, dan gagal jantung kongestif. Pemberian nitrogliserin via infus harus dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya toleransi nitrat yang memicu berkurangnya efektivitas obat.

Pada pasien serangan angina akut, nitrogliserin bisa diberikan secara transdermal dalam bentuk salep 2%. 

Cara Kerja Nitrogliserin

Nitrogliserin termasuk klasifikasi obat yang disebut sebagai vasodilator. Obat-obatan vasodilator seringkali digunakan untuk menangani kondisi serupa.

Nitrogliserin bekerja dengan mengurangi ketegangan hingga otot-otot halus dan pembuluh darah menjadi rileks. Ketika otot dan pembuluh darah lebih rileks, maka aliran darah ke jantung meningkat, begitu pula oksigen yang sangat dibutuhkan. Kondisi ini kemudian dapat mengurangi beban kerja jantung. Jika beban kerja jantung berkurang, maka nyeri dada pun reda.

Efek Samping Nitrogliserin

Nitrogliserin dapat menimbulkan efek samping berupa pusing dalam beberapa jam pertama setelah diberikan. Efek samping lainnya seperti*:

  • Sakit kepala
  • Hilang keseimbangan, pusing
  • Lemas
  • Detak jantung lebih cepat
  • Mual
  • Muntah
  • Kulit lebih hangat dan tampak kemerahan
  • Muncul ruam

Efek samping ringan dapat menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Namun jika efek samping terasa sangat mengganggu, sebaiknya pasien berkonsultasi pada dokter.

Segera hubungi dokter jika terjadi efek samping serius seperti tekanan darah rendah. Kondisi ini ditandai dengan pusing, pingsan, pandangan berkunang-kunang, mual, keringat dingin, dan napas pendek yang cepat.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan nitrogliserin. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Nitroglycerin (Oral Route, Sublingual Route) Description and Brand Names. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/nitroglycerin-oral-route-sublingual-route/description/drg-20072863 diakses 18 Februari 2023
  2. Nitroglycerin: Side Effects, Dosage, Uses, and More. https://www.healthline.com/health/drugs/nitroglycerin-sublingual-tablet diakses 18 Februari 2023
  3. Nitroglycerin. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482382/ diakses 18 Februari 2023
  4. Nitroglycerin (Nitrostat) – Side Effects, Interactions, Uses, Dosage, Warnings. https://www.everydayhealth.com/drugs/nitroglycerin diakses 18 Februari 2023
  5. Isosorbide. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557839/ diakses 22 Maret 2023
  6. Nitrates. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545149/ diakses 22 Maret 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

ACE Inhibitor

ACE Inhibitor

ACE inhibitors adalah jenis obat yang digunakan untuk menangani tekanan darah tinggi. Obat-obatan ini juga bisa diberikan pada kondisi-kondisi medis lainnya dengan indikasi terkait masalah tekanan darah tinggi.

Berikut informasi lengkap mengenai ACE inhibitor.

Apa itu ACE Inhibitor?

Angiotensin-converting enzyme inhibitors atau disingkat ACE inhibitor adalah obat-obatan yang termasuk dalam klasifikasi kegunaan menurunkan tekanan darah. ACE inhibitor juga bisa membantu mengurangi risiko masalah kardiovaskular, gagal ginjal, dan stroke.

Jenis obat ACE inhibitor digunakan untuk menangani penyakit kardiovaskular (masalah pada jantung atau pembuluh darah), seperti tekanan darah tinggi, gagal ginjal, penyakit ginjal terkait diabetes, dan kondisi-kondisi lainnya.

Ada banyak ACE inhibitor, mana yang paling cocok tergantung pada kondisi yang diidap serta kesehatan secara umum. Contoh ACE inhibitor seperti:

  • Benazepril (Lotensin)
  • Captopril
  • Enalapril
  • Fosinopril
  • Lisinopril (Prinivil, Zestril)
  • Moexipril
  • Perindopril
  • Quinapril (Accupril)
  • Ramipril (Altace)
  • Trandolapril.

Siapa yang Membutuhkan ACE Inhibitor?

ACE inhibitor digunakan untuk mencegah, menangani, atau meningkatkan kondisi pasien dengan masalah kesehatan seperti*:

  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung koroner
  • Gagal jantung
  • Diabetes
  • Penyakit ginjal kronis
  • Serangan jantung
  • Penyakit yang menimbulkan mengerasnya kulit dan jaringan ikat (skleroderma)
  • Migrain.

Kadang beberapa jenis obat untuk menangani masalah tekanan darah seperti diuretik atau penghambat saluran kalsium diresepkan bersama dengan ACE inhibitor. Namun ACE inhibitor tidak bisa dikonsumsi bersamaan dengan beberapa jenis obat lain seperti penghambat reseptor angiotensin atau direct renin inhibitor.

ACE inhibitor juga bisa diberikan untuk mencegah serangan jantung dan stroke pada orang-orang yang berisiko tinggi mengalami kondisi tersebut. Obat ini juga diberikan untuk memperlambat kondisi gagal ginjal pada pengidap diabetes.

ACE inhibitor juga bisa menangani masalah ginjal non-diabetes, beberapa di antaranya:

  • Sindrom nefrotik (kerusakan ginjal)
  • Proteinuria (kadar protein terlalu tinggi pada urine)
  • Penyakit glomerural (gangguan pada sistem filtrasi atau penyaringan pada ginjal)
  • Peradangan ginjal dan masalah penyaringan yang terjadi setelah transplantasi.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

ACE inhibitor termasuk obat yang aman dengan efek samping ringan. Namun terdapat kontraindikasi penggunaannya. Jika mengalami kondisi-kondisi ini, sebaiknya hindari mengonsumsi ACE inhibitor:

  • Hamil atau menyusui, ACE inhibitor tidak boleh dikonsumsi saat hamil karena bisa menyebabkan cacat lahir parah hingga kematian janin. Beberapa jenis obat ini aman dikonsumsi saat menyusui, tetapi sebaiknya konsultasikan pada dokter
  • Riwayat angioedema, atau pembengkakan yang terjadi di bawah kulit pada area wajah. Baik angioedema keturunan atau penyebabnya tidak diketahui. Hindari mengonsumsi ACE inhibitor jika pernah mengalami reaksi tertentu pada obat tersebut
  • Masalah ginjal parah, atau penyakit pada pembuluh darah yang mengganggu aliran darah pada ginjal (stenosis arteri renal).

ACE inhibitor bisa bereaksi dengan obat-obatan lainnya karena cara kerjanya yang memengaruhi sistem sirkulasi tubuh. Obat yang dapat bereaksi dengan ACE inhibitor antara lain:

  • Obat Antiinflamasi Non-steroidal (OAINS), reaksi ACE inhibitor dengan OAINS bisa menyebabkan obat menjadi kurang efektif atau menimbulkan penurunan fungsi ginjal. Jenis-jenis OAINS yang bisa bereaksi dengan ACE inhibitor adalah Aspirin, Ibuprofen, dan Naproxen*
  • Obat yang mempengaruhi kadar potasium dan sodium, ACE inhibitor mempengaruhi bagaimana tubuh mempertahankan atau membuang elektrolit seperti potasium dan sodium. Artinya jika pasien mengonsumsi jenis obat yang mempengaruhi kadar kedua senyawa tersebut, bisa terjadi reaksi tertentu. Contohnya hyperkalemia atau kadar potasium dalam darah terlalu tinggi*
  • Obat penghambat reseptor angiotensin, ACE inhibitor mencegah angiotensin bisa digunakan oleh tubuh. Obat-obatan yang menghambat reseptor angiotensin bisa bereaksi dengan ACE inhibitor karena cara kerjanya mencegah tubuh menggunakan angiotensin II. Jika kedua obat ini digunakan bersamaan, efek yang bisa timbul seperti gangguan fungsi ginjal, tekanan darah rendah, dan kemungkinan memicu hyperkalemia*
  • Obat yang mempengaruhi ginjal, contohnya aliskiren yang mencegah produksi enzim renin. Renin adalah bagian penting dalam tubuh yang berfungsi mengatur tekanan darah*.

Secara umum untuk penggunaan ACE inhibitor dengan aman cukup ikuti anjuran dari dokter. Anda bisa bertanya tentang makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari jika tengah mengonsumsi ACE inhibitor.

Terutama jika dokter meminta untuk mengubah pola makan rendah sodium atau mengurangi garam. Jika pasien dalam pengobatan ACE inhibitor tidak mengikuti pola makan tersebut, berisiko mempengaruhi kadar sodium dalam darah. Selain itu sebaiknya hindari pengganti garam yang mengandung potasium.

Karena cara kerjanya yang mempengaruhi sirkulasi, sebaiknya ketika mengonsumsi ACE inhibitor perhatikan detak jantung dan tekanan darah. Selama masih mengonsumsi, usahakan catat seberapa cepat detak jantung dan seberapa tinggi tekanan darah setiap harinya.

Aturan Penggunaan ACE Inhibitor

Semua jenis obat ACE inhibitor digunakan secara oral, kecuali Enalapril yang bisa diberikan melalui infus*. ACE inhibitor harus dikonsumsi sesuai resep yang diberikan dokter dan usahakan untuk meminumnya di waktu yang sama setiap hari. Aturan penggunaan lainnya seperti*:

  • Jika diresepkan untuk mengonsumsi lebih dari 1 kali sehari, atur jarak waktu yang tepat. Konsultasikan dengan dokter
  • Jika melewatkan 1 kali dosis, segera minum saat ingat. Namun jangan minum jika sudah sangat dekat dengan waktu mengonsumsi dosis berikutnya
  • Jangan mengonsumsi ACE inhibitor dalam dosis 2 kali lipat atau minum lebih banyak untuk menggantikan dosis yang terlewat.

Jangan menghentikan konsumsi ACE inhibitor tanpa berkonsultasi dengan dokter. Menghentikan konsumsi ACE inhibitor mendadak bisa menyebabkan dampak serius, bahkan mengancam nyawa. Terutama pada pasien yang berisiko serangan jantung, stroke, atau kondisi gagal jantung yang semakin buruk.

Untuk dosis ACE inhibitor dalam terapi hipertensi dan gagal jantung adalah:

Jenis ACE InhibitorTerapi HipertensiTerapi Gagal Jantung
Dosis HarianDosis Maksimal per HariDosis HarianDosis Maksimal per Hari
Benzapril (Lotensin)10 mg80 mg
Enalapril (Vasotec, Epaned)5 mg40 mg2.5 mg40 mgl
Lisinopril (Prinivil, Zestril)10 mg80 mg2.5 – 5 mg40 mg
Moexipril (Univasc)7.5 mg30 mg
Perindopril (Aceon)4 mg16 mg2 mg16 mg
Quinapril (Accupril)10 – 20 mg80 mg5 mg (2 kali sehari)40 mg
Ramipril (Alltace)2.5 mg20 mg1.25 – 2.5 mg (2 kali sehari)10 mg
Trandolapril (Mavik)1-2 mg8 mg1 mg4 mg

Tergantung alasan pemberian ACE inhibitor, kemungkinan obat ini akan terus digunakan untuk memperbaiki tekanan darah hingga kondisi stabil dan terkontrol. Jika telah tercapai tujuan tersebut, dokter akan membantu pasien mengurangi dosis hingga aman untuk berhenti mengonsumsi.

Cara Kerja ACE Inhibitor

Seperti namanya, ACE inhibitor bekerja dengan menghambat enzim yang berfungsi mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang dapat digunakan tubuh. Angiotensin II berfungsi menaikkan tekanan darah dalam berbagai cara, dengan mengurangi angiotensin II, maka cara ini efektif untuk menurunkan tekanan darah.

ACE inhibitor membuat jantung lebih mudah untuk memompa darah. Selain menurunkan tekanan darah, ACE inhibitor juga membantu melindungi jantung, pembuluh darah, serta kondisi ginjal pada pasien yang mengidap diabetes atau penyakit ginjal*.

Efek Samping ACE Inhibitor

Kebanyakan efek samping ACE inhibitor tidak terlalu serius, tetapi ada beberapa kasus di mana timbul efek samping yang butuh penanganan medis.

Efek samping yang paling sering muncul adalah:

  • Batuk kering
  • Kepala terasa pusing atau ringan
  • Sakit kepala
  • Mengantuk
  • Letih, kelelahan
  • Lemas
  • Gangguan pada indera pengecap, misalnya kemampuan merasakan yang menurun atau tiba-tiba ada rasa aneh di lidah
  • Perut tidak nyaman atau mual
  • Muncul ruam

ACE inhibitor juga dapat menimbulkan efek samping parah seperti hipotensi atau tekanan darah terlalu rendah, hiperkalemia atau peningkatan kadar potasium dalam darah, angioadenoma atau pembengkakan di berbagai bagian tubuh, reaksi alergi, hingga tanda-tanda penyakit kuning. Jika mengalami reaksi-reaksi tersebut, segera cari pertolongan medis.

Dosis tinggi ACE inhibitor umumnya dapat ditoleransi tubuh. Namun ada kemungkinan pasien mengalami keracunan. Gejalanya seperti tekanan darah rendah (hipotensi), penurunan fungsi ginjal, elektrolit tidak seimbang, hiperkalemia, dan hiponatremia atau penurunan kadar natrium dalam darah*.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai penggunaan ACE inhibitor. Dapatkan konsultasi dengan tenaga medis ahli dan profesional dari rumah Anda.

SUMBER:

  1. Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) Inhibitors. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/21934-ace-inhibitors diakses 20 Februari 2023
  2. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors (ACEI) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431051/ diakses 20 Februari 2023
  3. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors. https://www.heartandstroke.ca/heart-disease/treatments/medications/angiotensin-converting-enzyme-inhibitors diakses 20 Februari 2023
  4. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/ace-inhibitors/art-20047480 diakses 20 Februari 2023

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah , Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Enhanced External Counterpulsation EECP

Enhanced External Counterpulsation (EECP)

Apa Itu Enhanced External Counterpulsation (EECP)?

Enhanced external counterpulsation (EECP) adalah prosedur yang digunakan untuk menangani nyeri dada berulang (angina pektoris refrakter) yang telah diakui oleh Food and Drug Administration (FDA). EECP bekerja dengan cara menggunakan tekanan untuk mengembalikan alirah darah seperti semula. Prosedur ini bersifat noninvasif dan dapat dilakukan dengan cara rawat jalan.

Kapan EECP Dibutuhkan?

Kriteria dan Manfaat

Ketika seseorang mengalami angina pektoris, jantung tidak mendapatkan darah kaya oksigen yang cukup akibat penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah arteri. EECP biasanya digunakan ketika langkah pengobatan yang lain tidak dapat meredakan nyeri pada angina, dan tidak dapat mengembalikan kondisi vaskular pasien pasca prosedur revaskularisasi (Percutaneous Coronary Intervention). Prosedur ini mungkin juga disarankan untuk penderita yang membutuhkan pengembalian aliran darah tetapi tidak memungkinkan untuk melakukan prosedur pembedahan.

Siapa Saja yang Membutuhkannya?

Dokter mungkin akan merekomendasikan penggunaan EECP jika Anda mengalami:

  • Nyeri dada berulang.
  • Batuk.
  • Kelelahan.
  • Sesak napas.

Selain itu, EECP dapat pula mengatasi beberapa kondisi lain, seperti:

  • Cardiac syndrome X (CSX).
  • Penyakit serebrovaskular.
  • Gagal jantung.
  • Gagal ginjal.
  • Disfungsi ventrikel kiri.
  • Penyakit paru-paru (penyakit pulmonal).
  • Peripheral artery disease (PAD).

Sebelum EECP: Persiapan

Risiko

Kebanyakan orang tidak mengalami efek samping, rasa tidak nyaman, atau komplikasi yang serius. Namun, terdapat kondisi yang amat jarang ditemui di mana beberapa orang mengalami sesak napas dan membutuhkan perawatan dari rumah sakit. Selain itu, beberapa risiko komplikasi lain yang dapat terjadi setelah menjalani prosedur EECP, yaitu:

  • Kelelahan atau nyeri otot
  • Lecet atau iritasi kulit ringan akibat perangkat EECP
  • Memar
  • Edema
  • Rasa tidak nyaman pada otot atau sendi
  • Kebas atau kesemutan
  • Luka tekan.

Persiapan 

Sebelum menjalani prosedur, Andaperlu mempersiapkan beberapa hal, seperti:

  • Mendapatkan rujukan dokter
  • Menjadwalkan janji praperawatan, yang meliputi penilaian perawatan, tes stres latihan, dan orientasi prosedur serta perangkat.

Saat Prosedur EECP: Seperti Apa Prosedurnya?

Tahap-Tahap Prosedur EECP

Prinsip kerja alat ini adalah untuk membentuk pembuluh kolateral baru. Dokter akan menggunakan tiga set manset yang diisi udara secara cepat dengan tekanan yang dapat diatur berurutan mulai dari betis, paha, lalu pinggul, yang menyebabkan darah dari tungkai bawah diperas dan disalurkan ke pangkal aorta (counterpulsation). Terjadinya peningkatan tekanan diastolik akan memengaruhi peningkatan tekanan perfusi arteri koroner yang kemudian dapat menyebabkan terbentuknya kolateral baru untuk memasok darah pada otot jantung. 

Sebelum pemasangan EECP dilakukan, Anda biasanya akan diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan berganti pakaian dan mengenakan celana khusus perawatan. Pelaksanaan prosedur kemudian dilakukan dengan beberapa tahapan, antara lain:

  1. Dokter memasang tiga tempelan elektrokardiogram (EKG) pada dada Anda dan tiga buah manset karet (pneumatic cuffs) yang terhubung dengan selang udara dipasangkan pada tiga lokasi, yaitu betis, paha, dan pinggul Anda.  
  2. Dokter memasang sensor pada jari Anda untuk memeriksa kadar oksigen dan tingkat tekanan pada darah, sehingga tenaga medis dapat menyesuaikan pengaturan alat untuk hasil terapi yang terbaik.
  3. Selama prosedur, Anda berbaring di atas meja empuk sementara udara mengisi manset di sekitar tungkai bawah Anda.
  4. Anda akan merasakan manset mengencang di sekitar tungkai atas dan bawah, serta pinggul Anda sampai mencapai tekanan yang diinginkan oleh dokter.
  5. EKG dan monitor tekanan darah berfungsi untuk menyelaraskan inflasi dan deflasi dengan detak jantung Anda. 
  6. Manset akan mengembang setiap jantung beristirahat, meningkatkan suplai darah ke pembuluh darah arteri yang mengantarkan darah ke jantung Anda. Kemudian dengan cepat kembali mengempis untuk memudahkan jantung Anda memompa lagi.
  7. Setelah Anda terbiasa dengan setiap sensasi yang ada, terapi harusnya membuat Anda kembali merasa nyaman. 

Setelah Prosedur EECP: Apa yang Harus Dilakukan?

Perawatan

Prosedur EECP tidak memerlukan perawatan di rumah sakit dan Anda dapat kembali beraktivitas seperti rutinitas sehari-hari segera setelah perawatan selesai. 

Reaksi setiap orang terhadap prosedur EECP bervariasi. Anda mungkin merasa lelah selama beberapa hari setelah perawatan. Kebanyakan orang merasakan kemajuan kondisi dalam beberapa minggu terakhir sesi pengobatan selama tujuh minggu.

Gaya Hidup yang Perlu Diubah

Olahraga dapat membantu menjaga kesehatan jantung Anda. Dokter akan membantu Anda merencanakan program latihan yang sesuai selama minggu perawatan dan setelahnya. Bicaralah dengan dokter jika Anda berencana untuk berolahraga atau aktif secara seksual.

Pertanyaan Umum Seputar EECP

Berapa Lama Prosedur Ini Dilakukan?

Prosedur ini adalah pengobatan rawat jalan. Anda biasanya memiliki total 35 jam untuk melakukan perawatan ini: satu jam sehari, lima hari seminggu, selama tujuh minggu. Anda juga dapat melakukannya dua kali sehari selama tiga setengah minggu dengan cara melakukan prosedur selama satu jam, istirahat, kemudian melanjutkan satu jam sesi lain.

Sekitar 20% orang perlu mengulangi prosedur EECP, terutama jika mereka tidak menyelesaikan sesi awal selama 35 jam tersebut.

Kapan Saya Harus Menghubungi Dokter?

Segera temui dokter bila gejala yang Anda rasakan muncul kembali dan bahkan nyeri dada atau tekanan karena aktivitas fisik atau stres terjadi cukup sering.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai pemasangan EECP di dalam maupun luar negeri. Dapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter, perhitungan estimasi biaya, hingga pengaturan janji temu dan akomodasi.

Sumber:

  1. EECP Therapy (Enhanced External Counterpulsation). https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16949-enhanced-external-counterpulsation-eecp. Diakses 15 November 2022.
  2. EECP Treatment | Frankel Cardiovascular Center | Michigan Medicine. https://www.umcvc.org/conditions-treatments/eecp-enhanced-external-counter-pulsation-treatment. Diakses 15 November 2022.
  3. Tinjauan Terapi Enhanced External Counterpulsation EECP. https://www.neliti.com/publications/150698/tinjauan-terapi-enhanced-external-counterpulsation-eecp. Diakses 13 Januari 2023.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Albert Novianto, Care Pro dan Dokter Umum di Kavacare)

Operasi Bypass Jantung

Operasi Bypass Jantung

Apa Itu Operasi Bypass Jantung?

Operasi bypass jantung merupakan salah satu upaya untuk menangani penyakit jantung koroner. Pembedahan ini dilakukan dengan cara mengambil pembuluh darah yang sehat dari kaki, lengan, atau dada untuk disambungkan ke atas dan bawah pembuluh darah yang tersumbat akibat penumpukan plak. Prosedur ini tidak menyembuhkan penyakit jantung yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Namun, dengan dilakukannya pembedahan ini, gejala dapat diredakan dan bahkan untuk sebagian orang, fungsi jantung membaik dan risiko menurun kematian akibat penyakit jantung.

Kapan Operasi Bypass Jantung Dibutuhkan?

Kriteria dan Manfaat

Pelaksanaan prosedur ini biasanya diputuskan oleh dokter, ketika:

  • Anda mengalami nyeri dada serius yang disebabkan oleh penyempitan beberapa pembuluh darah arteri.
  • Anda memiliki lebih dari satu masalah jantung koroner, dan ventrikel kiri jantung tidak dapat berfungsi dengan baik.
  • Terdapat penyumbatan pada pembuluh darah kiri utama jantung Anda.
  • Anda mengalami penyumbatan pembuluh darah arteri yang tidak bisa ditangani dengan memasukkan balon kecil untuk melebarkan pembuluh darah tersebut (angioplasti).
  • Anda sudah melaksanakan prosedur angioplasti tetapi pembuluh darah arteri menyempit kembali.

Operasi bypass jantung biasanya dilakukan untuk menangani kasus yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner, misalnya:

  • Penyakit jantung koroner dan penyakit yang disebabkan aterosklerosis di bagian-bagian tubuh yang lain
  • Serangan jantung
  • Angina pektoris, yaitu nyeri dada yang disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen akibat kurangnya aliran darah (iskemia)
  • Iskemia miokardium diam, yaitu iskemia jantung tanpa gejala
  • Stroke.

Sebelum Operasi Bypass Jantung: Persiapan

Risiko 

Prosedur ini termasuk pembedahan besar, yang mana artinya memiliki beberapa risiko potensial dan komplikasi. Meskipun kebanyakan risiko bisa dihindari dan ditangani, penting bagi Anda mengenali risiko-risiko tersebut, yaitu:

  • Ritme jantung tidak teratur (aritmia), yang biasanya hanya bersifat sementara.
  • Perdarahan, biasanya Anda akan diminta untuk berhenti mengonsumsi obat untuk mencegah penggumpalan darah sebelum operasi.
  • Infeksi.
  • Linglung atau hilang ingatan selama beberapa jam.
  • Masalah ginjal.
  • Stroke.
  • Serangan jantung.

Persiapan Operasi Bypass Jantung

Sebelum pembedahan dilakukan, Anda mungkin akan menjalani beberapa pemeriksaan, antara lain:

  • Tes darah.
  • Foto sinar-X pada dada.
  • Elektrokardiogram.
  • Angiogram koroner.

Dokter juga akan memberi tahu apakah Anda perlu melakukan perubahan pola makan dan pengobatan sebelum dilakukannya prosedur. Beri tahu pula dokter Anda vitamin dan suplemen yang sedang Anda konsumsi, untuk mengetahui ada atau tidaknya risiko perdarahan.

Anda juga perlu membuat beberapa perencanaan pada masa pemulihan setelah pembedahan, seperti:

  • Memastikan siapa yang bisa menjaga Anda
  • Mengatur transportasi yang Anda pakai sebelum dan sesudah operasi
  • Mengatur waktu untuk cuti dari pekerjaan Anda
  • Melanjutkan konsumsi obat
  • Makan makanan yang sehat dan bernutrisi
  • Memantau berat badan Anda
  • Menjaga kesehatan mental Anda
  • Tetap bergerak secara aktif.

Saat Operasi Bypass Jantung: Seperti Apa Prosedurnya?

Selama prosedur, Anda akan tertidur sepanjang waktu akibat bius yang diberikan. Biasanya, pembedahan berlangsung selama 3 sampai 6 jam. Ventilator akan dipasang pada mulut Anda untuk membantu pernapasan selama prosedur dan setelahnya.

Tahap Pelaksanaan Operasi Bypass Jantung

  1. Dokter bedah akan membuat irisan panjang di tengah dada Anda dan mereka akan membuka tulang rusuk Anda untuk memudahkan akses menuju jantung.
  2. Tim bedah akan menggunakan obat-obatan untuk menghentikan kinerja jantung Anda sementara. Mesin pintas jantung paru (cardiopulmonary bypass/CPB) akan menggantikan fungsi jantung untuk mengedarkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh.
  3. Dokter kemudian akan mengambil sebuah pembuluh darah dari bagian tubuh Anda yang lain, seperti dada, kaki, atau lengan. Mereka akan menempelkan salah satu ujungnya pada aorta, pembuluh darah arteri besar dari jantung, dan menempelkan ujung yang lain pada bagian bawah pembuluh darah arteri yang tersumbat.
  4. Jika Anda memiliki beberapa penyumbatan, dokter akan mengulangi prosedur yang sama setelahnya.
  5. Setelah bypass selesai ditempatkan, dokter akan mengembalikan detak jantung Anda dan menutup kembali tulang rusuk serta menjahit bekas irisan pada dada.
  6. Anda akan dipindahkan ke ruang intensive care unit (ICU) selama satu atau dua hari.

Setelah Operasi Bypass Jantung: Apa yang Harus Dilakukan?

Perawatan

Anda mungkin akan merasa tidak nyaman dibandingkan dengan saat sebelum menjalani operasi. Anda mungkin kehilangan nafsu makan, sembelit, bahkan kesulitan untuk tidur. Dokter mengambil pembuluh darah yang sehat di bagian tubuh Anda, dan akan terdapat sedikit pembengkakan di sana. Itu semua normal.

Tubuh Anda memerlukan waktu untuk pulih dan Anda akan merasa lebih baik setiap harinya. Akan membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk merasa benar-benar pulih.

Gaya Hidup yang Perlu Diubah

Hasil perawatan jangka panjang akan bergantung pada bagaimana Anda rutin mengonsumsi obat untuk mencegah penggumpalan darah, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, dan menjaga diabetes. Penting juga bagi Anda untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti:

  • Berhenti merokok.
  • Menghindari atau mengurangi konsumsi alkohol.
  • Menjalani pola makan yang sehat, misalnya dengan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) atau diet mengurangi kandungan natrium atau garam pada makanan.
  • Mencapai dan menjaga berat badan yang sehat.
  • Berolahraga ringan secara teratur, seperti berjalan kaki, berlari, berenang, atau menari.
  • Mengatur stres.

Pertanyaan Umum Seputar Operasi Bypass Jantung

Kapan Saya Harus Menghubungi Dokter di Masa Pemulihan?

Segera hubungi dokter bila Anda merasakan gejala-gejala ini di masa pemulihan:

  • Demam
  • Detak jantung yang sangat cepat
  • Nyeri yang memburuk atau nyeri baru di sekitar luka sayat di dada
  • Kemerahan di sekitar luka sayat atau perdarahan atau keluar cairan lain dari luka sayat di dada.

Anda dapat menghubungi OperasiJantung.id di nomor Whatsapp 0877-8777-8614 untuk konsultasi gratis mengenai operasi bypass jantung di dalam maupun luar negeri. Dapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter, perhitungan estimasi biaya, hingga pengaturan janji temu dan akomodasi.

Sumber:

  1. Coronary artery bypass surgery (CABG) | BHF. https://www.bhf.org.uk/informationsupport/treatments/coronary-bypass-surgery. Diakses pada 6 September 2022.
  2. Coronary bypass surgery – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/coronary-bypass-surgery/about/pac-20384589. Diakses pada 6 September 2022.
  3. Coronary Bypass Surgery: Purpose, Procedure and Recovery. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/16897-coronary-artery-bypass-surgery. Diakses pada 6 September 2022.
  4. Heart Bypass Surgery: Purpose, Procedure, Risks, Recovery. https://www.webmd.com/heart-disease/heart-disease-bypass-surgery. Diakses pada 6 September 2022.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Eddy Wiria, PhD., Co-Founder & CEO Kavacare)

× Hubungi Via WhatsApp